Selasa , | WIB

Jumat, 01 Juli 2016 - 21:40:55 WIB
MEMBUKA TABIR PT PELNI MENYANGKUT PELAYANAN BURUK EMKL
Ekonomi Bisnis - Dibaca: 1766 kali


Terhadap Pemilik Barang Pemakai Jasa Pelayaran

SURABAYA,INTELIJENPOST.COM Perusahan pengiriman barang ( EMKL ) yang melaksanakan kegiatan bongkar – muat barang di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dengan memakai jasa pelayaran PT. Pelni cabang Surabaya, semenjak tahun 2005 – sampai sekarang ini dijadikan pungutan ganda terkait jasa barang yang dinamakan Ongkos Pemuatan Pelabuhan ( OPP ) dari pelabuhan awal dan biaya pengeluaran barang di pelabuhan tujuan, Ongkos Pelabuhan Tujuan ( OPT ).

Pelayanan buruk yang dilakukan Pelni cabang Surabaya, pemilik barang ( EMKL ) yang mengirim barangnya cuma jumlah satu meter kubik misalnya dikenakan harga per - kubik Rp. 270.000 dengan tujuan pelabuhan akhir Ambon, hal ini sama PT. Pelni cabang Surabaya dengan alasan ini aturan dari PT. Pelni pusat ( Jakarta ), maka dari harga satu meter kubik tadi, dikenakan bayar tiga kali lipat ( 3 x lipat ), jadi Rp. 270.000 x 3 = Rp. 810.000.

Lantas mengenai pungutan OPP dan OPT, pemilik barang ( EMKL ) sudah bayar lunas menyangkut OPP dan OPT sampai ke – pelabuhan tujuan sesuai bukti yang tertera dalam manifest barang dan hasilnya Pelni mengeluarkan surat konosumen untuk mengambil barang di pelabuhan tujuan tersebut, namun pada saat barang ini mau dikeluarkan oleh pemiliknya dari gudang PT. Pelni misalnya Ambon, petugas dari OPP, OPT Pelni Ambon tersebut masih minta bayar jasa bongkar dan keluarkan barang.

Sementara, PT. Pelni dengan melaksanakan sistim pelayanan buruk ini dengan menekan pengirim barang ( EMKL ) untuk dikenakan bayar OPP, OPT ganda serta penekanan terhadap pemilik yang mengirim barangnya satu meter kubik harus membayar tiga kali lipat biayanya, walaupun ini merupakan sistim pelayanan buruk, tapi otomatis PT. Pelni mengenyam keuntungan luar biasa, jelas.  

Tapi kenyataannya pada tahun 2013, PT. Pelni membukukan pendapatan sebesar RP. 2,4 triliun, namun perseroan tetap merugi sekitar Rp. 630 meliar.Direktur Utama PT Pelni (Persero), pada waktu itu Sulistyo Hardjito mengatakan, maskapai pelayaran terbesar di Indonesia itu akan menjual tiga dari 32 kapalnya, agar mampu menekan kerugian perusahaan.

Lalu diantara kapal penumpang yang dijual itu KM Kerinci, yang pernah menjadi kebanggaan PT Pelni pada dasawarsa '80-an. Kapal penumpang kelas Kerinci (sekitar 3.700 ton bobot mati) itu dibeli dalam keadaan "gress" alias baru sama sekali dari galangan kapal di Hamburg, Jerman. 

Bahkan, sebelum ketiga kapal penumpang itu, PT Pelni juga telah menghibahkan kapal-kapal penumpang-kargo kelas Kerinci ini kepada TNI AL, yaitu KM Kambuna (menjadi KRI Tanjung Nusanive-973) dan KM Rinjani (KRI Tanjung Fatagar-974). Keduanya diubah menjadi kapal militer kelas angkut personel. 

Lanjut Hardjito, setelah rapat pimpinan BUMN di Jakarta, Kamis, mengatakan, tiga kapal yang dijual itu sudah tidak beroperasi sejak setahun lalu. 

"Perseroan menjadi inefisien karena masih harus mengeluarkan biaya perawatan dan beban gaji pegawai jika mempertahankan tiga kapal itu," ujarnya.

Langkah meningkatkan efisiensi menjadi prioritas masa kepemimpinan Hardjito, yang enggan merinci lebih jauh berapa harga jual kapal-kapal itu.

Untuk menggantikan ketiga kapal penumpang yang dijual itu, PT Pelni sedang mengkaji bentuk dan spesifikasi kapal baru. Ada tiga konsep kapal baru itu, yakni kapal khusus penumpang, kapal khusus barang, atau kapal penumpang yang digabungkan dengan barang, dan juga kendaraan.

Selain program efisiensi itu, dia katakan, PT Pelni juga akan menggiatkan peningkatan pelayanan kepada penumpang. Pelayanan yang buruk kepada pemakai jasa pelayaran, juga jadi pekerjaan rumah besar bagi perusahaan pelayaran plat merah itu. 

“Permasalahan PT Pelni itu adalah pelayanan kepada penumpang, dan bagaimana cara menekan kerugian dengan efisiensi," ujarnya. (IP – LA )



Berita Lainnya