Minggu , | WIB

Rabu, 21 Mei 2014 - 08:59:37 WIB
DOLLY TUTUP, PELACUR GENTAYANGAN SURABAYA TERANCAM PENYAKIT HARIMAU
Politik & Pemerintahan - Dibaca: 40482 kali


Kawasan Dolly

SURABAYA,INTELIJENPOST.COM Rencana penutupan  Dolly yang menjadi salah satu kawasan lokalisasi legendaris di Kota Surabaya menuai pro dan kontra. Masalahnya dengan menutup apakah akan selesai masalah prostitusi di Kota Surabayayang kini menjadi Kota Metropolis?

Dijanjikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) jika tidak sekedar Dolly ditutup dan para PSK ditelantarkan. Namun ada pelatihan dan duit(uang) modal untuk PSK.

Mudakah urusannya? Padahal wanita – wanita yang terjerumus kedunia esek-esek ini bukan karena factor kemiskinan semata. Melainkan terlibat  juga masalah moral yang membentuk mereka bertindak dan bersikap jadi seorang PSK.

Jadi hal ini tidak dapat menjamin untuk menyelesaikan masalahnya. Dalam satu kesempatan, Intelijen Post mewawancarai Ketua LSM. Pemantau Kinerja Aparatur Pemerintahan Pusat Dan Daerah (LSM. PKA-PPD ) Jawa Timur Lahane  Aziz, bertanya terkait masalah ini.

Menurut Aziz, adanya pembongkaran lokalisasi Dolly oleh Pemkot Surabaya boleh –boleh aja, asalkan niat pembongkaran tidak ada unsure politik atau ada pengusaha yang bermain dibelakang layar untuk niat bisnisnya tertentu.

“Kalau memang  betul –betul program Pemkot Surabaya untuk menggusur seluruh lokalisasi yang ada dengan punya tujuan, “ Kota Surabaya bersih dari maksiat, “kami LSM juga mendukung,asalkan jangan tebang pilih. Silahkan gusur seluruhnya tempat – tempat maksiat yang ada  di Wilayah Kota Surabaya,” tegas Aziz.

Disebutkan Aziz dari hasil investigasi dan perburuan LSM.PKA-PPD di wilayah Kota Surabaya banyak tempat – tempat maksiat bukan hanya di Dolly.  Seperti di gang dekat Hotel Majapahit disitu bertopeng tempat pijit ternyata tempat esek –esek, di Tunjungan Plaza lantai enam disediakan tempat karaoke sekaligus bisa eksekusi alias melakukan hubungan badan. “Masih banyak tempat lainnya yang berkedok macam-macam. Tapi secara illegal buka praktek maksiat,” ungkap Aziz.

“Kalau ini sudah niat untuk melaksanakan program membersihkan Kota Surabaya dari maksiat, janganDolly saja semuanya harus digusur dan tidak boleh tebang pilih. Tapi juga harus diwaspadai dampaknya kalau kemudian menambah praktek illegal prostitusi baru yang memicu penyebaran penyakit Aids,  biasanya disebut penyakit Harimau,” sambungnya.

Dalam penilaian Aziz,Dolly ditutup menciptakan masalah baru, karena prostitusi malah beralih ke hotel – hotel  dan jalanan, bahkan secara tidak langsung para pelacur ini akan berpraktek secara diam-diam serta menempati  taman–taman sudah tersedia yang dibangun Pemkot Surabaya. “Akhirnya sudah membaur dengan masyarakat dan menjadi penyakit masyarakat baru,” pungkasnya.  (LA – NA)

Berita Lainnya