Minggu , | WIB

Jumat, 15 September 2017 - 22:33:04 WIB
LPSNPB MINTA KRISIS ROHINGYA DIANGKAT KE MAHKAMAH PIDANA INTERNASIONAL
Dunia - Dibaca: 601 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijenpost.com

Kepala humas Lembaga Palapa Sakti Nusantara Pemersatu Bangsa ( LPSNPB ), Lahane Aziz menyebut kekerasaan sistematis atau persekusi yang diduga dilakukan pemerintah Myanmar terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya harus bisa diajukan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk diadili.

Menurut Kepala humas LPSNPB seluruh Indonesia, Aziz mengatakan,  apa yang terjadi di Myanmar jelas merupakan kejahatan kemanusiaan dan hal tersebut adalah salah satu persoalan yang menjadi kewenangan ICC. Lantas Aziz, ini masalah kekerasan sistematis atau persekusi jadi tidak bisa beralasan masalahnya, ini menyangkut kemanusian maka Myanmar harus bisa diadili walaupun bukan merupakan anggota lembaga peradilan internasional tersebut, ujarnya.

“LPSNPB harapkan besar kemungkinan untuk bisa mudah dibawa ke ICC walaupun Myanmar bukan negara anggota ICC dan tidak pula meratifikasi Statuta Roma, berarti organisasi ini hanya melindungi segolongan, bukan melindungi seluruh umat manusia. Lantas tidak bisa serta-merta diajukan ke ICC,” kata Aziz, hal ini sudah melenceng bukan sosial tapi komersial, jelasnya di Surabaya – Indonesia, Jumat (15/9).

Namun demikian, Aziz mengatakan masih ada kesempatan bagi masyarakat internasional untuk membawa kasus ini ke ICC. Salah satunya dengan mendorong Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberikan resolusi tegas dan kesimpulan yang kuat bahwa sudah terjadi kejahatan serius di Myanmar. “Kalau ada keputusan politik dari DK PBB, krisis kemanusiaan ini bisa saja diangkat ke ICC. Walaupun, resolusi di DK PBB mungkin saja diveto oleh sekutu Myanmar seperti China bahkan Rusia,” tutur Aziz.

Bahkan selama ini, China dan Rusia memang tidak terlalu vokal menanggapi krisis kemanusiaan di Rakhine seperti negara lainnya. Sejauh ini, Beijing dan Moskow hanya menyatakan dukungannya terhadap upaya Myanmar menjaga stabilitas dan keamanan negaranya. Sedikitnya 1.000 orang, khususnya Rohingya, diperkirakan tewas sejak krisis kemanusiaan di Rakhine kembali bergejolak akibat bentrokan militer dan militan di wilayah itu, 25 Agustus lalu.

Lalu sejak itu, ratusan ribu Rohingya dan etnis minoritas lain dikabarkan melarikan diri keluar Rakhine atau Myanmar dan mengungsi ke negara tetangga seperti Bangladesh, Thailand, dan Malaysia. Di tengah situasi genting itu, Myanmar diduga menggunakan ranjau yang ditanam di daerah perbatasan dengan Bangladesh untuk mencegah para pengungsi kembali ke Rakhine.

Sementara sejauh ini, Amnesty International menghitung sudah ada lima pengungsi Rohingya yang menjadi korban ranjau tersebut. “Ini kan sudah jelas, kesaksian dari para pengungsi Rohingya dan sumber kita di Myanmar, khususnya Rakhine, bahwa ada serangan sistematis dari aparat Myanmar terhadap Rohingya,” ujar Aziz. ( IP - *** )



Berita Lainnya