Rabu , | WIB

Minggu, 24 September 2017 - 12:52:28 WIB
RIBUAN PENGUNGSI PASRAH HIDUP DI GOR STATUS GUNUNG AGUNG AWAS
Nusantara - Dibaca: 86 kali


Intelijenpost.com

Bali, Intelijenpost.com

Sesuai mngenai status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, yang kini di level awas membuat ribuan penduduk pasrah mengungsi ke lokasi yang aman. Jaraknya mencapai 12 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Selanjutnya ribuan pengungsi itu sebagian besar berasal dari daerah zona bahaya, di antaranya Selat, Munca, Sideman, Rendang, Besakih. Salah satu posko pengungsian berada di Kabupaten Klungkung, tepatnya di GOR Swecapura. Sampai saat ini, setidaknya sebanyak 10.940 pengungsi berada di GOR Swecapura.

Kemudian menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Klungkung I Gede Putu Winastra, Pemkab Klungkung memang telah mendirikan posko di GOR tersebut satu minggu sebelum kenaikan status Gunung Agung. Salah satu warga, Nyoman Juniarti (71) mengaku sudah mengungsi ke GOR Swecapura sejak 20 September lalu, atau dua hari sebelum status Gunung Agung dinaikkan menjadi awas.

Lantas Juniarti menuturkan, kala itu pihak Pemkab Klungkung langsung datang ke desa, di Dusun Sebun, untuk melakukan evakuasi warga. Ia bersama 18 orang anggota keluarga pun langsung setuju mengungsi sesuai arahan pihak Pemkab Klungkung. Sampai hari ini, Juniarti sudah empat hari berada di pengungsian. Selama ini, menurutnya, segala kebutuhan bisa disediakan oleh pihak Pemkab Klungkung maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung.

"Menyangkut bantuan lengkap, cuma kadang air di toilet suka berhenti," kata Juniarti kepada awak media di GOR Swecapura, Klungkung, Bali, Minggu (24/3). Meski demikian, ia mengaku belum pernah mengalami kendala selama berada di pengungsian lantaran pihak relawan selalu berusaha membantunya jika ia membutuhkan bantuan.

Sementara berbeda halnya dengan Made Sukirta (46) yang mulai mengungsi pada 22 September lalu setelah status Gunung Agung naik menjadi awas. Sukirta mengaku khawatir dengan keselamatannya dan keluarga jika masih terus berada di rumah. Gunung Agung tidak bisa diprediksi kapan akan meletus. "Khawatir saja kalau tiba-tiba meletus, makanya saya ikut mengungsi," ujarnya.

Juga Sukirta mengaku tak memiliki persiapan khusus sebelum evakuasi ke pengungsian. Ia menuturkan hanya membawa kebutuhan yang sekiranya diperlukan selama berada di pengungsian. Sukirta juga menyampaikan akan tetap tinggal di posko sampai situasi Gunung Agung kembali normal. "Ya di sini saja lah, sampai nanti aman," ucap Sukirta.

Lalu lain halnya dengan Gusti Ngurah Putu Singarse (34) yang baru mengungsi pada pagi tadi. Singarse menceritakan alasan ia mengungsi juga dikarenakan permintaan pihak keluarganya yang berada di Sanur. "Keluarga di Sanur khawatir makanya kami diminta mengungsi saja, biar mereka juga tenang," katanya.

Bahkan Singarse dan lima anggota keluarganya akhirnya memutuskan untuk datang ke posko yang berada di GOR Swecapura. "Kami enggak bawa banyak barang, hanya pakaian saja," tuturnya. Dari pantuan Intelijenpost.com, para pengungsi mengisi waktu luangnya dengan beragam kegiatan, mulai dari berbincang dengan pengungsi lain hingga menonton siaran televisi.

Mengenai anak-anak yang berada di pengungsian pun juga diberikan kegiatan agar tidak jenuh selama berada di pengungsian. "Kami kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan kegiatan kepada anak-anak, mulai dari bernyanyi, bermain dan sebagainya," kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Klungkung, Ketut Suadnyana. ( IP – MB )

 



Berita Lainnya