Senin , | WIB

Jumat, 22 Desember 2017 - 13:21:49 WIB
AS KEMBALI ANCAM CABUT DANA DI MAJELIS UMUM PBB
Dunia - Dibaca: 676 kali


Intelijenpost.com

Newyork, Intelijenpost.com

Berita yang dilansir Intelijenpost.com, sesuai menurut Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Nikki Haley kembali mengulangi ancaman bahwa AS akan menarik dana bantuan jika lembaga itu tidak mendukung keputusan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Lantas ancaman itu pernah disampaikan Haley melalui halaman Facebook dan Twitter, dan kembali ia ulangi ketika berbicara sebelum sidang voting Majelis Umum PBB, Kamis (22/12).  "Amerika Serikat adalah kontributor (dana) terbesar untuk PBB dan badan-badannya. Kami melakukan ini, dalam sebagian hal, untuk menyokong nilai-nilai dan kepentingan kami.

Sementara ketika hal itu terjadi, partisipasi kami di PBB bisa menghasilkan kebaikan untuk dunia. Bersama-sama kami memberi makan, pakaian, dan pendidikan untuk orang-orang yang sedang dalam keputusasaan. Kami merawat dan mempertahankan kedamaian yang sesungguhnya sangat rapuh, di tempat-tempat konflik di seluruh dunia. Dan kami menuntut pertanggungjawaban rezim-rezim pelanggar hukum. Kami melakukannya karena hal ini mewakili diri kami. Ini adalah cara-cara Amerika," ujar Haley.

"Mengenai hal ini, namun kami akan jujur dengan Anda. Ketika kami membuat kontribusi berharga untuk PBB, kami juga memiliki ekspektasi bahwa kebaikan kami akan diakui dan dihormati. Ketika sebuah bangsa diserang di organisasi ini, maka bangsa itu sedang tidak dihormati. Terlebih lagi, negara itu tetap diminta untuk membayar "hak istimewa" untuk tidak dihormati."

"Selanjutnya dalam kasus Amerika Serikat, kami diminta untuk membayar lebih banyak dari negara lainnya untuk hak istimewa itu. Tidak seperti beberapa anggota PBB, pemerintah AS harus bertanggung jawab pada rakyatnya. Kami memiliki tanggung hawab untuk mengakui jika modal politik dan modal finansial kami dihabiskan dengan percuma."

"Kemudian kami punya kewajiban untuk berharap lebih pada investasi kami. Dan jika investasi ini gagal, kami punya kewajiban untuk mengalokasikan sumber daya kami pada cara-cara yang lebih produktif. Ini adalah pikiran yang melintas ketika kami menghadapi resolusi hari ini." ( IP - *** )

 



Berita Lainnya