Selasa , | WIB

Minggu, 11 Februari 2018 - 09:56:55 WIB
KUALITAS BERAS THAILAND TAK SEBAIK BERAS LOKAL PEDAGANG SEBUT
Ekonomi Bisnis - Dibaca: 207 kali


Intelijenpost.com

Surabaya, Intelijenpost.com

Ketua. Kordinator LSM. Pemantau Kinerja Aparatur Pemerintahan Pusat Dan Daerah ( PKA – PPD ) Seluruh Indonesia, Lahane Aziz mengatakan, teka – teki atau dugaan mengenai besar kemungkinan adanya mafia beras yang mengatur impor bersama oknum pemerintah saat ini hampir sudah terbuka kedoknya.

Menurut Aziz, para mafia beras atau tengkulak mulai memberi keterangan berbelit - belit kepada awak media yang melakukan investigasi sekaligus konfirmasi dengan pedagang beras di pasaran mengatakan, kualitas beras Thailand tak sebaik beras lokal, hal ini Aziz menjelaskan kalau kualitas beras lokal lebih baik kenapa Bulog ( pemerintah ) harus impor beras tersebut, tuturnya.

Hal ini jelas, kecurigaan LSM makin kuat adanya permainan mafia beras dan merupakan pemain lama yang pernah terjadi pada masa orde baru serta saat ini mulai dilaksanakan lagi karena mendapat angin segar oleh oknum pemerintah untuk dapat masukan beras impor ribuan ton, padahal sekarang ini petani gabah lagi memasuki panen raya inilah taktik mafia beras agar membeli gabah dari petani dengan harga murah, kata Aziz.

Lantas ini mudus operandi mafia beras, dengan alasan persediaan beras agak menipis serta persediaan beras lokal tidak mencukupi kebutuhan sebab hasil panen terganggu akibat cuaca kurang baik dari pada beras tidak ada lebih baik impor beras hal ini merupakan permainan para mafia atau tengkulak, begitu beras impor datang langsung dimasukan diseluruh gudang – gudang Bulog, kemudian para tengkulak ini mulai beli gabah petani dengan harga murah karena alasannya beras impor melebihi kebutuhan yang tersedia digudang – gudang Bulog tersebut, kata mafia beras ini.

Akhirnya para petani mau tidak mau menjual gabah hasil panennya dengan harga murah sebab petani ini sangat membutuhkan uang untuk membayar hutang – hutangnya yang dia pinjam dari para tengkulak untuk membeli pupuk serta keperluannya selama masa tanam, jadi hal ini petani gabah tetap merugi sedangkan tengkulak atau mafia beras meraup untung berlipat ganda.

Kemudian gabah yang dibeli tadi dibawa kemesin slep untuk jadi beras lalu dicampur ( oplos ) dengan beras impor tersebut dan hasilnya sudah menjadi beras yang berkualitas baik dan dapat dijual dipasaran dengan harga tinggi, ini jelas mafia beras itu sudah mendapat untung berlipat ganda juga dan hal ini telah merugikan perekonomian negara, tutur Aziz.

Selanjutnya berita yang dilansir Intelijenpost mengenai, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) menyatakan beras impor perdana tahun ini akan didatangkan dari Thailand. Beras itu dijadwalkan sampai di Indonesia pada 11 Februari 2018.

Mengenai sekitar 16 ribu ton beras akan dikirim dari negara Gajah Putih tersebut. Tujuannya adalah untuk membantu pasokan beras di Tanah Air yang terganggu karena cuaca buruk. Namun, masyarakat rupanya menilai bahwa kualitas beras Thailand masih di bawah beras lokal. Namun, kualitasnya masih lebih baik ketimbang beras dari negara lain.


"Sementara kalau beras Thailand itu secara kualitas memang bagus dibandingkan beras impor negara lain misalnya Vietnam, tapi masih di bawah sedikitlah dari Indonesia," kata Sutarman, salah satu penjual beras di Pasar Induk Beras Cipinang pada awak media, Sabtu (10/2).

Lanjut Sutarman dan teman-temannya juga sepakat bahwa rasa beras Thailand kurang pulen setelah di masak. Oleh karena itu, dia terpaksa harus mencampur beras impor dan lokal agar nasi terasa lebih enak. "Saya kalau makan nasi Thailand paling lima suap sudah berhenti karena pera, tidak enak, tidak bisa ditelan. Kasihan masyarakat suruh makan beras itu kurang pulen tapi harganya juga tinggi," ucapnya. ( IP - *** )



Berita Lainnya