Rabu , | WIB

Sabtu, 17 Maret 2018 - 20:02:39 WIB
PRABOWO PUNYA SETRATEGI YANG TAK KUNJUNG MENDEKLARASIKAN CAPRES
Politik & Pemerintahan - Dibaca: 123 kali


Intelijenpost.com

Surabaya, Intelijenpost.com

Sesuai menurut pengurus daerah Partai Gerindra Jawa Barat dan Banten telah mendeklarasikan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2019. Namun, hingga kini Prabowo dan dewan pengurus pusat partai berlambang kepala burung garuda itu belum memberikan kepastian untuk maju bertarung pada Pilpres 2019.

Menurut Ketua umum Paguyuban Pejuang Pers Seluruh Indonesia ( P3SI ), Lahane Aziz berpendapat DPP Gerindra, dan juga Prabowo Subianto punya setrategi sedang berhitung tentang kekuatan politiknya sebelum resmi mendeklarasikan kandidat Capres di pemilu 2019. "Hal ini Prabowo dan Gerindra sedang banyak pertimbangan, untuk mengusung kembali Prabowo atau tidak, ini yang sedang dilakukan dalam waktu dekat. Pencapresan kan sebelum Agustus," kata Aziz saat dihubungi Intelijenpost.com, Sabtu (16/3/2018 ).

Lantas Aziz menilai ada empat faktor yang menjadi penyebab deklarasi calon presiden dari Gerindra tak kunjung dilakukan. Pertama, kata Aziz, internal DPP Gerindra dan Prabowo kemungkinan besar sedang mengevaluasi persoalan rekam jejak mantan Danjen Kopassus itu. Sebab, Prabowo pernah kalah dalam dua kontestasi Pilpres sebelumnya. Lalu Gerindra dan Prabowo dinilai akan berbenah dan tak akan mengulangi kekalahan yang sama di Pilpres 2019 mendatang.

Mengingat hal itu, Prabowo mengalami kekalahan pertamanya pada kontestasi Pilpres sejak tahun 2009 lalu. Saat itu, ia menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri sebagai capres. Pasangan ini hanya mendapatkan 26,79 persen suara kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono keluar sebagai pemenang dengan 60.8 persen suara sah nasional.

Bahkan di Pilpres 2014 lalu, Prabowo yang maju sebagai capres berpasangan dengan Hatta Rajasa juga dikalahkan oleh pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang meraih 53.15 persen suara sah nasional. "Jadi mereka ini kan sedang berpikir soal kredibilitas pak Prabowo yang beberapa kali mencalonkan diri tapi kalah. Jadi dia sedang mengkalkulasi plus minus apa yang harus dilakukan," ujar Aziz..

Pertimbangan kedua, kata Adi, Prabowo dan Gerindra kemungkinan sedang menimbang para kandidat lain yang memiliki kapasitas dan peluang menang lebih besar di Pilpres 2019.

Namun kandidat ini, imbuh Aziz, kemungkinan bisa dicalonkan sebagai capres pengganti Prabowo atau sebagai cawapres jika Prabowo kembali dicalonkan sebagai capres. Juga menurut Aziz, kandidat itu nantinya diharapkan bisa mendongkrak suara dan mengalahkan calon presiden yang telah memastikan maju di 2019, Joko Widodo.

"Ini juga taktiknya, jadi kalau dia deklarasi capres cepat-cepat, itu sama saja menutup pintu bagi kandidat lain yang punya potensi bisa mengalahkan Jokowi untuk didukung oleh Gerindra, tapi hal ini memang butuh kebesaran hati yang besar dari Prabowo juga karena dia harus rela tak jadi capres," kata dia.

Kemungkinan ada pertimbangan lainnya, Gerindra dinilai masih berkonsolidasi untuk menguatkan logistik partai dan modal koalisi parpol pendukung agar kandidat capres/cawapres yang diusungnya dapat memenangkan kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Aziz juga mereka – reka mengenai status Gerindra sebagai parpol di luar pemerintahan tak memiliki 'kemewahan' ketimbang partai pendukung pemerintah lainnya untuk mengakses sumberdaya baik politik, ekonomi dan lainnya. "Jadi mereka memang enggak punya kemewahan untuk mengakses sumberdaya dan fasilitas publik ya, kurang logistik mereka itu," ucap dia.

Kemudian selain itu, kata Aziz, modal parpol pendukung yang dimiliki Gerindra saat ini hanya PKS. Jika kedua parpol tersebut berkoalisi, syarat ambang batas pencalonan presiden di Pemilu 2019 sebesar 20 persen telah terpenuhi. Akan tetapi, Aziz menilai, kedua parpol tersebut diprediksi akan kesulitan dan kewalahan untuk memenangkan capres/cawapres yang diusung di Pilpres 2019 mendatang. "Mesin politiknya kurang, dia (Gerindra) harus menggandeng PKS dan menggandeng partai lain juga agar peluang menangnya mudah," pungkas Aziz.

Menyangkut nanti pertimbangan terakhir, ungkap Aziz, Gerindra sengaja menggunakan momentum ini untuk menarik simpati masyarakat dengan cara belum mendeklarasikan nama capres sehingga nama Prabowo sebagai simbol partai dan Gerindra sendiri terus menerus diingat masyarakat. Hal ini bertujuan sebagai strategi politik agar Gerindra dan Prabowo terus-menerus menjadi perhatian publik yang berdampak pada terdongkraknya elektabilitas dirinya dan Gerindra secara bersamaan untuk modal di Pilpres 2019.

"Perhelatan ini saya menduga biar ingatan publik ke pak Prabowo yang digadang akan melawan Jokowi terus diingat, ini justru jadi kampanye gratis dan jadi media daring yang terus dibicarakan dan diberitakan," tutur Aziz. ( IP - *** )

 



Berita Lainnya