Rabu , | WIB

Jumat, 30 Maret 2018 - 09:13:15 WIB
KAPOLRES BANGGAI DINILAI TAK CERMAT DEMO RICUH
Halo Polisi - Dibaca: 88 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijenpost.com

Sesuai menurut Asisten Kapolri bidang Sumber Daya Manusia (As SDM) Inspektur Jenderal Arief Sulistyanto menilai Ajun Komisaris Besar Heru Pramukarno tidak cermat dalam menganalisis situasi saat insiden kericuhan terjadi dalam proses penggusuran lahan seluas 20 hektare di Tanjung Luwuk, Kabupaten Banggai pada Senin (19/3).

Lantas menurut dia, ketidakcermatan Heru berimplikasi pada pengambilan langkah hukum yang salah sehingga pihaknya memutuskan mencopot Heru dari jabatan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Banggai. "Dia gagal dalam menganalisis situasi dan mengambil langkah-langkah," kata Arief kepada wartawan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan, Kamis (29/3).

Selanjutnya meski begitu, dia mengaku tidak mengetahui kronologi peristiwa yang terjadi secara detail. Menurut Arief, hasil investigasi Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (Propam) menyatakan Heru gagal menjalan tugas sebagai seorang kepala kepolisian satuan wilayah tingkat resor. "Nanti dari Propam. Yang penting sanksi administratif telah diberikan, dan dibebastugaskan (dari jabatan kapolres)," ucap Arief.

Kemudian menurutnya, setiap kepala kepolisian satuan wilayah harus memiliki kemampuan dalam menganalisis situasi dan mengambil langkah hukum yang tepat. "Itulah, jadi kapolres tidak mudah, itu harus pandai," kata Arief. Lebih jauh, jenderal bintang dua itu menerangkan kesalahan yang dilakukan Heru dapat mempengaruhi perjalanan karier yang bersangkutan di Korps Bhayangkara. Arief berkata pihaknya tengah membuat sebuah sistem yang mampu merekam setiap kesalahan yang dilakukan oleh anggota Polri.

"Bahkan ke depan kami akan buat itu berpengaruh (pada karier). Kami sedang lakukan penyederhanaan sistem personel, semua akan tercatat, terekam, apalagi kesalahan," ucapnya.

Kericuhan yang tampak dalam sebuah video berdurasi sekitar satu menit yang beredar di media sosial itu menunjukkan barisan ibu-ibu menggelar pengajian dengan duduk di jalan, sekaligus menghalangi sejumlah petugas yang berusaha melakukan penggusuran.

Mengenai hal ini, tidak lama kemudian, lemparan batu mengarah ke barisan petugas dan menyebabkan suasana menjadi ricuh. Aksi massa itu kemudian dibalas petugas dengan melepaskan gas air mata. Saat peristiwa itu, polisi menangkap 26 orang karena dianggap menghalangi proses eksekusi lahan.

Sementara saat proses eksekusi berlangsung, polisi mengerahkan aparat sebanyak 837 personel gabungan. "Saat peristiwa mereka menghalangi pelaksanaan eksekusi," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Hery Murwono kepada awak media, Selasa (20/3). ( IP – DW – AG )



Berita Lainnya