Senin , | WIB

Selasa, 24 April 2018 - 10:25:10 WIB
PAPUA , PAPUA BARAT , DAN NTT ENDEMIS TINGGI MALARIA KEMENKES SEBUT
Pendidikan & Kesehatan - Dibaca: 199 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijenpost.com

Mengenai Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi daerah berkatagori endemis tinggi penyebaran penyakit malaria. Hal itu terungkap dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait 'Situasi Malaria Menurut Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2017.'

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Elizabeth Jane Soepardi menyebut peta situasi malaria di sebagian Indonesia timur masih berwarna merah atau endemis tinggi dan kuning atau endemis menengah. "Merah dan kuning itu banyak di daerah timur. Papua, Papua Barat, NTT masih. Ada sebagian di Kalimantan," kata Jane di kantornya, Jakarta, Senin (23/4).

Selanjutnya dari total 262 juta penduduk di Indonesia, sebanyak 4,9 juta atau dua persennya tinggal di daerah endemis tinggi. Selama tahun 2017, tercatat ada 261.617 kasus malaria secara nasional yang menewaskan setidaknya 100 orang. Sementara itu, setengah dari total jumlah 514 kabupaten/kota di Indonesia sudah mencapai kategori bebas malaria. Artinya, terdapat 72 persen penduduk Nusantara tinggal di daerah bebas malaria.

Kemudian peta berwarna putih atau bebas malaria terdapat di Pulau Jawa dan Bali, sementara sisanya mayoritas berwarna hijau (endemis rendah) seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun, Jane mengimbau agar upaya pemeliharaan tetap harus dilakukan untuk mencegah munculnya kembali penularan malaria. "Masih terdapat 10,7 juta penduduk yang tinggal di daerah endemis menengah dan tinggi malaria. Upaya percepatan untuk mencapai bebas malaria harus dilakukan di Papua, Papua Barat, dan NTT," kata Jane.

Hal ini, Kemenkes pun telah mengupayakan sejumlah cara untuk mencegah penyebaran malaria. Salah satunya dengan Pekan Kelambu Massal dan pemantauan penggunaannya karena malaria menggigit manusia di malam hari. "Salah satu cara untuk mencegah kita digigit nyamuk adalah kelambu. Kelambu itu ada insektisidanya. Selain nyamuk nggak bisa gigit karena terhalang, nyamuk yang menempel di kelambu juga mati," kata Jane.

Lanjut Jane menambahkan, kelambu yang dicelup ke insektisida akan bertahan sampai tiga tahun. Setelah tiga tahun, kelambu harus diganti. Masalahnya, kata Jane, udara Indonesia timur yang panas membuat sebagian warga enggan tidur menggunakan kelambu karena menghalangi angin. Terlebih, warga tidak memiliki kipas angin.

Lantas secara nasional, jumlah total kelambu yang didistribusikan untuk seluruh Indonesia sejak 2004 hingga 2017 sebanyak 27,6 juta kelambu. Sementara 2017 sebanyak 3.984.224 kelambu telah disitribusikan dalam Pekan Kelambu Massal di 166 kabupaten/kota dan 20 provinsi di Indonesia. "Tetapi kemudian kita monitor. Kita sudah mendistribusikan 27,6 juta kelambu. Satu rumah itu dilihat kelompok tidurnya ada berapa dan diberikan sesuai jumlah kelompok tidur," kata Jane.

Dia ( Jane ) menilai, pengobatan malaria efektif menggunakan terapi kombinasi berbasis Artemisinin (Artemisinin Based Combination Therapy /ACT) sesudah konfirmasi laboratorium. Peran aktif warga mencegah penyebaran malaria juga sangat membantu. Seperti yang dilakukan Warga Kabupaten Asmat, Papua dengan menyebar ikan pemakan jentik, serta penyemprotan dinding rumah untuk mengusir nyamuk. "Mereka juga bikin parit yang ada ketinggian, sehingga air akan mengalir dan telur nyamuk tersapu," kata Jane.

 

Mengenai warga Asmat juga sudah mulai mengganti caranya mengumpulkan air bersih. Dari yang tadinya menampung air hujan dalam sebuah kontainer, sekarang warga sudah membuat sumur gali dengan kedalaman kurang lebih tiga meter. Jane pun mengingkatkan masyarakat untuk senantiasa melakukan "ABC" dalan mencegah malaria.

Sementara A, yakni awasi dan perhatikan faktor risiko, cara penularan, cara pencegahan, masa inkubasi, gejala, dan tanda malaria. B, yakni biasakan untuk menghindari gigitan nyamuk selama di daerah endemis dengan menggunakan kelambu saat tidur dan tidak keluar malam. Jika terpaksa keluar, gunakan baju panjang dan terang serta memakai lotion anti nyamuk.

Serta C, yakni cek darah segera ke tenaga kesehatan jika ada gejala demam selama di sana sampai satu bulan setelah kembali dari daerah endemis. Masyarakat juga harus menyampaikan kepada dokter riwayat perjalanannya. ( IP – BOY )

 



Berita Lainnya