Rabu , | WIB

Kamis, 03 Mei 2018 - 11:27:07 WIB
DITANTANG BERNYALI BAHAS SEMEN KENDENG GANJAR DAN SUDIRMAN
Politik & Pemerintahan - Dibaca: 146 kali


Intelijenpost.com

Semarang, Intelijenpost.com

Sesuai menyangkut kasus semen Kendeng tak tersentuh pada debat pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Tengah 2018. Para paslon diduga sengaja menghindar isu itu karena ada kepentingan investasi tambang. Isu semen Kendeng telah mewarnai masa-masa kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo akibat berbagai aksi protes yang dilakukan oleh warga Pegunungan Kendeng.

Lantas di antaranya, protes Kartini Kendeng yang melakukan aksi jalan kaki dari Jawa Tengah ke Jakarta, menyemen kaki di depan Istana Negara, yang berujung kematian salah satu pejuangnnya. Warga memprotes pembangunan pabrik semen di di sekitar Pegunungan Kendeng, Rembang, Jateng, oleh PT Semen Indonesia Tbk (Persero) karena dianggap tak menaati Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Persoalan itu hingga kini tak jelas juntrungan.

Mengenai kasus Kendeng luput dari pembahasan dalam debat perdana Pilgub Jateng 2018, bebeberapa waktu lalu. Warga mengaku bingung soal alasan petahana Ganjar Pranowo maupun penantangnya, Sudirman Said, sama sekali tak menyinggung soal semen Kendeng. "Sedulur siket tidak mengerti juga kenapa tak ada pembahasan sama sekali dalam debat kemarin. Padahal kami menunggu langkah apa yang mereka ambil untuk selesaikan masalah di sini," kata Gunarti, salah satu aktivis warga Kendeng, saat dihubungi awak media, Rabu (2/5).

Selanjutnya pada debat perdana Pilgub Jateng ada enam tema yang diangkat, yakni soal meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, penyelesaian persoalan daerah, menyerasikan pelaksanaan pembangunan daerah Kabupaten/Kota, serta memperkokoh NKRI dan kebangsaan.Sementara debat kedua kali ini membahas persoalan ekonomi dan pelayanan publik di Jawa Tengah.

Menurut Gunarti mengaku menunggu kalimat atau setidaknya singgungan salah satu calon dalam debat ketika itu yang berhubungan dengan permasalahan pembangunan Pabrik Semen di Kendeng.  "Tapi sampai selesai debat, tidak ada. Yowes kami semakin yakin bahwa tak ada yang bisa kami pilih," cetus Gunarti.

Menyangkut hal itu diakuinya semakin memperdalam kekecewaan warga Kendeng. Terlebih, tak satupun paslon mendatangi warga Kendeng untuk sekadar membicarakan masalah pembangunan pabrik semen itu. Ganjar, kata Gunarti, memang pernah datang sekali ke lokasinya pada masa kampanye. Namun, Ganjar tak membahas sedikitpun soal pabrik semen. "Pernah datang, tapi tak ada dialog. Dia katanya kangen keluarga di sini. Tak temui warga. Temui keluarga saja, saya tidak dengar itu ada dialog dengan warga," katanya.

Sementara pihaknya mengancam tak memilih satu pun paslon jika dalam rangkaian debat Pilgub Jateng 2018 ini tak ada sama sekali pembahasan soal pabrik semen Kendeng. "Ya nanti coba dilihat di debat kedua, kalau ada yang bahas mungkin kami mau nyoblos, kalau tidak bahas kami bisa golput. Buat apa memilih pemimpin yang tidak bisa dengar dan selesaikan masalah warga yang mau dia pimpin?" cetus Gunarti.

Menurut Merah Johansyah dari Jaringan Tambang Nasional (Jatam) mengaku kecewa sekaligus bingung karena masalah Kendeng tak disinggung pada debat putaran pertama Pilgub Jateng. "Kecewa, bingung, dan langsung terpikir kalau ini adalah bukti kedua Paslon memang tak berniat selesaikan masalah lingkungan di Jawa Tengah," ujarnya.

Hal ini, ia juga mengkritisi pembahasan dalam debat pertama yang tak substansial. "Untuk apa warga nyoblos [pada] Pilgub, kalau Kendeng-nya tak bisa diselamatkan. Pilgub kok bahas ras, bahas agama, bahas puisi. Masalah sesungguhnya tak disinggung," lanjutnya.

Kemudian berdasarkan temuan Jatam, lanjutnya, ada 120 izin tambang baru yang dikeluarkan enam bulan sebelum masa kampanye Pilgub Jateng. Sebanyak 38 izin diantaranya adalah izin tambang yang berada di kawasan pegunungan karst dan terkait eksplorasi batuan gamping dan kapur. "Gamping dan kapur ini merupakan bahan utama yang dibutuhkan pabrik semen. Untuk penambangannya sendiri ada di sekitar Pati, Rembang, sepanjang daerah itu," terang Merah.

Bahkan jika kedua paslon sama sekali tidak menggarap isu Semen Kendeng dan maraknya tambang di daerah itu, kata dia, maka ada kemungkinan Pilgub Jawa Tengah ini ditunggangi segelintir investor tambang. "Jawa Tengah itu lumbung pertanian pangan, kok Pemerintahnya malah obral izin tambang, izin bangun pabrik semen? Ini krisis bagi warga dan lingkungan, tapi kenapa tidak dibahas? Ada apa? Kalau tetap tak dibahas ini ada kemungkinan ditunggangi sejumlah kepentingan," kata dia.

Lalu pemerhati kebijakan publik dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (PSKK UGM) Satria Aji Imawan memperkirakan kedua paslon tak punya visi soal penyelesaian nasib warga di sekitar Pegunungan Kendeng. "Nasib mereka belum dipastikan. Dan itu tidak diangkat di debat kemarin. Soalah-olah memang keduanya tak punya visi ke depan untuk selesaikan masalah ini," kata dia.

Serta Aji pun menilai kedua cagub, baik Ganjar maupun Sudirman Said, sengaja menutup mata dari persoalan semen Kendeng itu. "Ditutupi karena muatan kepentingan tinggi. Itu lebih kepentingan pelik yah, antara swasta dan Pemda Jateng," ujarnya.

Padahal, katanya, isu tersebut bisa menjadi bahan untuk menarik simpati warga. Ketiadaan pembahasan akan menimbulkan antipati dari masyarakat. Terlepas dari itu, Aji mengakui ada dilema dari kedua paslon terkait Kendeng. Satu sisi, ada kepentingan untuk menyelesaikan permasalahan warga, namun di sisi lain ada persoalan terikat kontrak dengan swasta. "Di debat tak diangkat karena beresiko besar bagi keduanya. Baik Sudirman maupun Ganjar. Mereka sama-sama tahu kalau permasalahan ini bisa menyeret keduanya," tutup dia. ( IP - *** )



Berita Lainnya