Rabu , | WIB

Selasa, 15 Mei 2018 - 11:47:43 WIB
DI INDONESIA ADA LIMA PASUKAN ELITE ANTI - TEROR
Nasional - Dibaca: 116 kali


Intelijenpost.com

Surabaya, Intelijenpost.com

Sesuai mengenai aksi bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur kemarin merupakan aksi teror yang kesekian kalinya terjadi di Indonesia. Secara khusus penanganan terorisme ditangani Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri.

Lantas selain Densus 88, ada sejumlah pasukan khusus antiteror yang dimiliki aparat di luar kepolisian, dalam hal ini TNI. Dihimpun Intelijenpost.com dari berbagai sumber, Senin (14/5), berikut pasukan-pasukan khusus antiteror yang dimiliki Indonesia.

1. Detasemen Khusus 88 Antiteror (Polri)

Satuan khusus dari unsur kepolisian yang juga dikenal dengan nama Densus 88 ini ditugaskan untuk menangani segala macam ancaman teror, termasuk teror bom dan juga penyanderaan. Komposisi tim ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak sebagai penjinak bom, dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

Sementara Densus 88 dirintis oleh Gories Mere dan diresmikan pada 26 Agustus 2004 oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Jenderal Polisi Firman Gani. Angka 88 yang disematkan berasal dari kata ATA (Anti-terorisme Act). Jika pelafalannya menggunakan logat Inggris menjadi berbunyi Ei Ti Ekt (eighty eight).

Lalu sejumlah operasi yang pernah sukses dilakukan oleh Densus 88 diantaranya, penggerebekan buronan Dr Azhari di Kota Batu Malang, Jawa Timur pada 2005. Penangkapan Yusron Mamudi alias Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah. Selain itu, Pengepungan teroris di Kampung Kepuhsari, Jebres, Solo. Dalam operasi ini 4 teroris tewas, salah satunya adalah Noordin M Top.

2. Detasemen Khusus 81 Kopassus (TNI AD)

Bahkan  pasukan khusus ini dikenal dengan nama Sat-81 atau dulu disebut sebagai Den-81 Gultor (Penanggulangan Teror). Pasukan ini dibentuk pada 30 Juni 1982.

Mengenai latar berlakang dibentuknya Sat-81 berawal dari keberhasilan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha/kini Kopassus) melakukan pembebasan sandera oleh teroris yang membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla di Thailand pada 31 Maret 1981. Operasi Kopassandha tersebut di bawah komando Benny Moerdani yang kala itu menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI.

 

Serta komandan pertama Sat-81 adalah Luhut Binsar Panjaitan dan wakilnya adalah Prabowo Subianto. Di masa awal pembentukan Sat-81 Luhut dan Prabowo harus dikirim ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman untuk mempelajari upaya penanggulangan teror, sekembalinya ke Indonesia, keduanya dipercaya menyeleksi dan melatih para prajurit Kopassandha yang akan ditugaskan bergabung ke Sat-81.

Taktik dan ciri khas dari pasukan ini adalah bergerak dalam unit kecil dengan durasi penyelesaian singkat dalam menanggulangi serangan teroris. Sebagaimana visi dan misinya, "tidak diketahui, tidak terdengar, dan tidak terlihat.

3. Detasemen Jalamangkara (TNI AL)

Selanjutnya pasukan elite yang disingkat dengan nama Denjaka ini merupakan detasemen khusus penanggulangan teror aspek laut. Denjaka merupakan gabungan personel dari dua pasukan khusus TNI AL, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) Korps Marinir. Denjaka dibentuk pada 13 November 1984. Kemampuan Denjaka tidak hanya untuk bertempur tetapi juga sebagai satuan intelijen tempur handal.

Namun sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan, dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Pasukan yang dijuluki hantu laut ini juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, vertikal, dan udara.

4. Satuan Bravo 90 (TNI AU)

Kemudian satuan khusus yang juga dikenal dengan nama Satbravo-90 (sebelumnya Detasemen Bravo 90) ini merupakan satuan pelaksana operasi khusus Korps Pasukan Khas (Kopaskhas) yang berkedudukan di bawah Komandan Korpaskhas.

Terkait satuan Satbravo-90 dibentuk sekitar tahun 1990 pada era kepemimpinan Marsma TNI Maman Suparman selaku Komandan Puspakhas saat itu. Spesialisasi Satbravo-90 adalah melumpuhkan alustsista musuh dalam mendukung operasi dan penindakan teror serta pembajakan di udara. Satbravo-90 memiliki moto 'Setia, Terampil, Berhasil'.

5. Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab)

Menyangkut selain keempat pasukan khusus di atas, pemerintah pernah membentuk Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab). Koopssusgab dibentuk pada 9 Juni 2015 oleh Jenderal Moeldoko selaku Panglima TNI kala itu. Tim ini merupakan gabungan pasukan khusus dari tiga matra TNI, yakni Sat-81, Denjaka, dan Satbravo-90.

Lanjutnya, pasukan khusus ini berjumlah 90 personil. Mereka disiagakan di wilayah Sentul, Bogor, Jawa Barat dengan status operasi, sehingga siap siaga setiap saat ada perintah untuk terjun menanggulangi teror.

Sebenarnya pasukan ini sudah ditiadakan. Namun baru-baru ini Moeldoko yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan menyarankan Presiden Joko Widodo untuk menghidupkan kembali Kopssusgab. Saran ini tak lepas dari peristiwa penyerangan dan penyanderaan oleh napi teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Selasa (8/5) sampai Kamis (10/5) lalu. ( IP - *** )

 



Berita Lainnya