Selasa , | WIB

Sabtu, 02 Juni 2018 - 21:43:27 WIB
LSM SEBUT SAAT MALING TERIAK PENCURI SERTA KORUPTOR TERIAK KORUPSI
Peristiwa - Dibaca: 391 kali


SURABAYA,INTELIJENPOST.COM Ketua Kordinator LSM. Pemantau Kinerja Aparatur Pemerintahan Pusat Dan Daerah ( PKA – PPD ) Seluruh Indonesia, Lahane Aziz mengatakan, Semakin hari kasus korupsi di Indonesia semakin menjadi. Berdasarkan catatan dari LSM. PKA- PPD, sepanjang tahun 2016, terdapat 14.564 perkara yang masuk. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2015, yakni 13.977 perkara. Artinya, tahun 2016 saja, terjadi peningkatan 1.000 perkara. Dan, jumlah itu belum termasuk sisa perkara tahun 2015 yang mencapai 3.950.

Selanjutnya bagaimana dengan tahun 2017? Silahkan bayangkan sendiri, di tengah gejolak politik bangsa yang panas dingin sekarang ini. Semakin digelorakan anti korupsi, semakin menjadi perilaku para pencuri. Tapi, begitulah para pencuri. Semakin dibuatkan kuncinya agar harta tidak didekati, maka mereka juga berinovasi agar mampu membuka kunci tadi. Semakin canggih alat pencegah korupsi, para maling juga semakin berani.

Lantas apa masalah besar kita? Masalah besar kita adalah bercokolnya para pejabat dan para elit di pemerintahan yang berjiwa dan berperilaku koruptor, berlagak alim di depan masyarakat, kemudian berubah menjadi setan di balik tabir, berlagak dermawan di depan fakir miskin, tapi berubah jadi drakula di kegelapan malam.

Sementara mereka berteriak keras di hadapan publik "Basmi korupsi...Basmi Korupsi". Padahal ia sendiri sudah korupsi ratusan juta bahkan milyaran uang negara. Mereka adalah kaum yang membuncitkan perut mereka dan mengendutkan rekening mereka, dengan bermandikan keringat derita rakyat jelata.

Mengenai hal ini tidak ada lagi budaya malu. Semuanya sudah ditelan hawa nafsu. Makanya para Ustad dan Kiyai  menjelaskan, jikalau kamu tidak malu, lakukan apapun yang kamu inginkan. Kenapa? Sebab ia bukan manusia lagi. Orang yang sudah tercerabut rasa malunya, tidak layak dilabeli manusia. Sebab akalnya dan logikanya sudah hilang dan sirna.

Kemudian mereka adalah manusia-manusia yang hanya akan menyisakan bau busuk di tengah peradaban manusia. Mereka adalah bangkai-bangkai hidup yang berjalan layaknya zombie menghisap darah anak negeri. Namun entah kenapa, masih saja ada anak negeri yang mau mempersembahkan suara mereka untuk para politikus tak bernurani ini. Setiap kali pemilu, suara para politikus busuk masih saja mampu menusuk tabir-tabir kebenaran yang sudah bentangkan di langit-langit kekuasaan.

Lalu dan itu artinya, anak negeri ini pun sudah banyak yang terkena virus korupsi, yang sengaja ditularkan para penghisap darah anak negeri. Dengan bekal amplop Rp 50.000 sampai Rp 100.000, kekuasaan bisa kembali diraih. Padahal, uang itu adalah uang rakyat jua, yang sengaja dibagikan lagi demi kembali mendapatkan kursi. Dimana akal kita? dimana logika kita? dimana nurani kita? Sudahkah tumpul karena tertutupi gelapnya awan korupsi? ( IP - *** )



Berita Lainnya