Selasa , | WIB

Rabu, 06 Juni 2018 - 23:11:52 WIB
LSM SEBUT PT SINAR MAS RAJA HUTAN
Peristiwa - Dibaca: 421 kali


Bongkar Lahan Tanam Sawit, Tebang Serta Ambil Kayu Secara Bebas

SURABAYA,INTELIJENPOST.COM - Ketua Kordinator LSM. Pemantau Kinerja Aparatur Pemerintahan Pusat Dan Daerah ( PKA – PPD ) Seluruh Indonesia, Lahane Aziz mengatakan, menurut data dan informasi yang dihimpun LSM kami di wilayah Sumatra dan Kalimantan sudah ribuan hektare hutan yang dibuka atau dibongkar untuk perkebunan kelapa sawit milik  PT. Sinar Mas, sehingga hal ini hutan menjadi gundul karena ditebang serta mengambil kayu secara bebas.

Selanjutnya LSM mempertanyakaan masalah PT. Sinar Mas, yang memiliki tanah atau lokasi hutan sampai ribuan hektare ini dengan dasar alas hak apa? Serta pemerintah memberikan izin untuk membongkar hutan sampai ribuan hektare apa tidak bertentangan dengan peraturan Menteri Lingkungan Hidup mengenai perusakan hutan dan lingkungan sekitarnya, maupun masalah pemberian izin dari Dinas Badan Pertanahan Nasional mengenai hak guna bangun, hak mengelola, hak pakai atau hak sewa kelola yang dapat dikatakan telah melampaui batas izin sebenarnya, ujar Aziz.

Untuk itu, LSM minta kepada pemerintah segera tinjau ulang mengenai izin – izin yang sudah dikeluarkan untuk PT. Sinar Mas karena sistim kerja membongkar hutan sampai ribuan hektare ini sangat membahayakan masyarakat sekitar hutan tersebut dan hal ini berdampak juga pada lingkungan dan eko sistimnya serta rawan terjadi banjir, erosi di mana tempat lokasi pembongkaran hutan tersebut, pungkas Aziz.

Imbuhnya, apapun alasannya mengenai PT. Sinar Mas ini pemerintah segera menanggapi masalahnya terkait membongkar atau merusak hutan sampai ribuan hektare dengan alasan menanam kelapa sawit, tapi kayu ditebang dan diambil untuk kepentingan bisnisnya yang dijual secara batangan ( loging ) dan dibuat kayu lapis ( trpleks ) dengan melibat beberapa anak perusahannya yang menangani masalah bisnis kayu itu, tutur Aziz.

Selanjutnya berita yang dilansir Intelijenpost.com mengenai, PT Sinar Mas Agrobisnis Resources and Technology Tbk (SMAR) telah menyiapkan penanaman bibit sawit di lahan bam milik mereka di Kalimantan dari Sumatera. Total lahan seluas 20 ribu hingga 30 ribu hektare. Keperluan dana investasi diperkirakan mencapai Rp45 juta per hektare.

"Menyangkut pengembangan lahan, di antaranya di Kalimantan Barat seluas 10 ribu hektare, Kalimantan Tengah sekitar 5.000 hektare dan Kalimantan Selatan 2.000an hektare. Sisanya di daerah Sumatera," kata Chief Executive Officer SMAR, Susanto di Jakarta pekan lalu. Dengan perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa total biaya penanaman yang akan dilakukan SMAR berada di kisaran Rp900 miliar hingga Rp1,35 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk proses penanaman, perawatan hingga menghasilkan produk sawit siap panen.

Lantas keseluruhan proses tersebut secara umum membutuhkan waktu selama empat tahun. SMAR hingga saat ini tercatat memiliki lahan existing seluas 460 ribu hektare. "Untuk dana penanaman rencananya akan kami ambilkan dari kas internal dan juga pinjaman perbankan," Porsi kas internal sekitar 35 persen. Sisanya dari pinjaman perbankan, salah satunya dari Bank Mandiri. "Bisa dari mana saja, baik bank pemerintah, swasta lokal maupun juga asing," kata Susanto.

Kemudian menurut dia, saat ini Sinar Mas menguasai sekitar tujuh persen dari total produksi sawit Indonesia. Porsi tersebut didapat dari kemampuan produksi perusahaan yang mencapai lima ton per hektare untuk minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO), dan 24 ton sampai 25 ton per hektare untuk jenis produk tandan buah segar (TBS). "Tahun ini produksi CPO nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton. Itu dua juta ton di antaranya merupakan produksi kami," tutur Susanto.

Sementara belakangan ini persoalan sawit Indonesia menjadi polemik, karena Amerika Serikat menolaknya. Tak kurang dari Presideh Susilo Bambang Yudhoyono ikut berkomentar. Di depan 128 perwakilan negara asing di Kantor Kementerian Luar Negeri, bulan lalu, Presiden menuduh Amerika Serikat dan negara-negara yang menolak CPO Indonesia telah berlaku curang dan tidak adil dalam perdagangan dunia. 

"Menurutnya, ada isu kelapa sawit saya dengar ada semacam aksi boikot dan melawan serta melarang perkebunan kelapa sawit. Terus terang kalau ada aksi itu menurut saya kurang fair." Menurut Presiden, melarang sebuah negara untuk berkebun kelapa sawit padahal hal itu memiliki makna ekonomi dan kesejahteraan adalah sebuah opsi yang tidak baik. "Kami divonis kelapa sawit tidak boleh dijadikan menjadi sumber mata pencarian menurut saya ini berkaitan dengari keadilan."

Hal ini sejak 28 Januari, Amerika Serikat menolak produk kelapa sawit dan turunannya dari Indonesia, dengan alasan produk ini tidak ramah lingkungan. Sejatinya, penolakan terhadap CPO dan turunannya dari Indonesia sudah berlangsung sejak akhir 2009. Saat itu, raksasa consumer goods internasional asal Inggris-Belanda, Unilever, memutuskan menghentikan pembelian minyak sawit dari Sinar Mas.

Bahkan alasannya, berdasarkan temuan LSM internasional, Green Peace, Sinar Mas membabat hutan alam secara besar - besaran dan merusak lahan ganbut dalam membuka kebun kelapa sawit. Sinar Mas telah membantah dan mengajak Green Peace untuk duduk bersama untuk mengklarifikasi temuannya. ( IP - *** )

 

 



Berita Lainnya