Rabu , | WIB

Jumat, 27 Juli 2018 - 13:26:33 WIB
BEBERAPA DAERAH RAWAN PANGAN TERMASUK NTT KEMENSOS SEBUT
Nusantara - Dibaca: 154 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijenpost.com

Sesuai menurut Kementerian Sosial (Kemensos) menyebut bencana kelaparan terparah hingga saat ini baru terjadi di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Namun, Provinsi Nusa Tenggara Timur juga sebenarnya rawan pangan dan kekeringan karena faktor cuaca.

"Menurutnya daerah Maluku, serta NTT (Nusa Tenggara Timur) sebenarnya rawan (pangan) dan kekeringan. Juga di daerah-daerah yang notabene ekstrem cuacanya seperti Papua dan Papua Barat," kata Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kemensos Margowiyono, kepada awak media, baru lalu.

Selanjutnya minimnya curah hujan penyebab kekeringan yang melanda NTT, kata Margo mempengaruhi hasil kebun bercocok tanam warga. Perkebunan di NTT antara lain terdiri dari tanaman padi, serta tanaman palawija seperti jagung dan umbi-umbian. "Karena dia tergantung alam, alamnya kering mempengaruhi ke kebun hasil cocok tanam dia," kata Margo.

Hal ini Margo pun mengaku sudah turun langsung ke Kabupaten Sumba Timur di NTT. Menurutnya, pemerintah daerah (pemda) setempat sudah mengantisipasi ancaman ketahanan pangan dan air di sana. Salah satunya dengan penyediaan cadangan beras pemerintah (CBP).

Lantas berdasarkan Permensos 12/2012, Bupati/Walikota berwenang menggunakan CBP untuk penanganan tanggap darurat akibat bencana yang terjadi di wilayahnya paling banyak 100 ton dalam kurun waktu satu tahun. "Di NTT belum ada laporan seperti Maluku. Hanya antisipasi kalau kekeringan ada di daerah tersebut," kata Margo.

Kemudian terkait bencana kelaparan di Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku yang memakan korban jiwa, Margo menyebut warga setempat berasal dari suku terpencil. Mereka yang berlatar belakang suku Mausu Ane itu, kata Margo, sulit membuka diri dengan budaya masa kini. "Dia kan Komunitas Adat Terpencil (KAT), ada budaya dan kearifan lokal yang dia belum bisa terima sehingga dia menutup diri," tutur Margo.

Sementara dengan kondisi geografis yang sulit, Margo menyebut tim Kemensos butuh waktu tiga hari tiga malam untuk menyalurkan bantuan. "Bisa bayangkan dia masih model (suku pedalaman) Papua, belum mau berpakaian, seperti suku Dalam Anak Jambi yang hanya tergantung pada alam," kata Margo. ( IP – BOY )

 



Berita Lainnya