Senin , | WIB

Kamis, 11 Oktober 2018 - 18:01:38 WIB
MYANMAR TANGKAP 3 WARTAWAN LAGI P3SI MINTA UN : PRES TANGGAPI HAL INI
Nasional - Dibaca: 57 kali


Intelijenpost.com

Surabaya, Intelijenpost

Ketua umum Paguyuban Pejuang Pers Seluruh Indonesia, Lahane Aziz mengatakan, terkesan pemerintahan ( Kepolisian ) Myanmar arogansi dalam hal menjalankan tugasnya sebagai pengamanan terhadap rakyat ( wartawan ) yang dalam hal ini menjalankan tugasnya sebagai journalist dengan pengertian memberikan keadilan serta mencari jalan perdamaian untuk mencapai suatu ketentraman, kenyamanan berdasarkan tujuan perdamaian dunia, ujarnya.

Selanjutnya mengenai pemerintahan Myanmar sudah beberapa kali menahan dan penjarakan wartawan yang bertugas liputan kenegara tersebut, P3SI minta UN: Press untuk menanggapi masalah ini lebih serius dan segera adakan investigasi terkait penahanan wartawan ini serta apapun alasannya UN: Press bisa menyelesaikan kasusnya karena aturan dan Undang – Undang UN: Press juga berlaku untuk seluruh dunia dibawa pengawasan dan perlindungan Persatuan Bangsa – Bangsa ( PBB ) kata Ketua umum P3SI. 

Lantas berita yang dilansir Intelijenpost mengenai, Kepolisian Myanmar menangkap tiga wartawan dari Eleven Media Group pada Rabu (10/10) karena dinilai tidak menghormati pemerintah regional Yangon.

Mengenai ketiga wartawan itu bernama Kyaw Zaw Linn, Nayee Min, dan Phyo Wai. Mereka ditahan pada Rabu sekitar pukul 10.00 waktu Yangon dan diamankan di Penjara Insein. "Mereka didakwa dengan pasal 505 (b) dan tidak bisa mengajukan bebas dengan jaminan," ucap kuasa hukum ketiga jurnalis itu, Kyi Myint, melalui telepon kepada The Strait Times, Kamis (11/10).

"Menyangkut hal ini, tidak ada kebebasan media. Myanmar telah lama menginginkan demokrasi, tapi lihat situasi sekarang ini. " Media lokal melaporkan otoritas Yangon telah mengajukan tuntutan terhadap ketiga jurnalis itu setelah merilis "informasi yang tidak benar" terkait pemerintah regional. Jika terbukti bersalah, Zaw Linn, Nayee Min, dan Phyo Wai, terancam hukuman hingga dua tahun penjara.

Kemudian penangkapan ketiganya berlangsung setelah pengadilan Myanmar memvonis dua jurnalis Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, tujuh tahun penjara pada Agustus lalu. Keduanya dinilai melanggar Undang-Undang Rahasia Negara karena meliput krisis kemanusiaan yang tengah memburuk dan menargetkan minoritas Rohingya di Rakhine.

Sementara Wa Lone dan Soe Oo ditangkap pada 12 Desember lalu setelah kepolisian menuding mereka melanggar hukum 1923 dengan menerima "dokumen-dokumen rahasia" dari pejabat polisi. Wa Lone dan Soe Oo mengaku tidak bersalah, sementara Reuters menyebut penangkapan kedua wartawannya itu sebagai "perangkap".

Bahkan penangkapan hingga vonis Wa Lone dan Soe Oo semakin memperburuk citra Myanmar di mata internasional. Pemimpin de facto Myanmar sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, membela keputusan persidangan. ( IP - *** )

 



Berita Lainnya