Sabtu , | WIB

Rabu, 31 Oktober 2018 - 05:50:44 WIB
LION AIR BERI PENDAMPINGAN KELUARGA KORBAN JT-610 MENHUB MINTA
Ekonomi Bisnis - Dibaca: 87 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijenpost

Sesuai menurut Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meminta pihak Lion Air turun tangan memfasilitasi keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air JT610. Misalnya dengan memberikan pendampingan psikologis.

Selanjutnya menurut Budi, keluarga korban dipastikan terguncang atas peristiwa ini. Lion Air, kata Budi, bisa bekerjasama dengan Polri terkait pendampingan bagi keluarga korban. "Saya juga minta kepada Lion Air bertanggung jawab berikan fasilitas yang baik dan ramah, memberikan semacam satu komunikasi psikologis bersama-sama Polri agar keluarga korban tetap semangat," kata Budi di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/10).

Lantas ia berharap proses evakuasi, pengumpulan data dari keluarga korban, hingga identifikasi bisa berjalan cepat dan lancar. Ini demi mempermudah proses pemberian santunan kepada keluarga korban. "Bersama dengan itu juga tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) dan sidik jari sangat penting untuk memberikan suatu dasar bukti bagi Jasa Raharja memberikan asuransi," kata dia.

Kemudian terkait pendampingan psikologis, Lion Air saat ini sudah mempersiapkan dan melakukan pendampingan psikologi kepada keluarga di posko utama JT610. "Jajaran manajemen Lion Air juga akan melakukan kunjungan ke posko Halim Perdanakusuma, RS Polri, Karawang dan Tanjung Priok," kata Corporate Communications Strategic Lion Air Gorup, Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulisnya.

Sementara diketahui sampai saat ini sudah 37 kantong jenazah yang dikirim ke RS Polri dari lokasi evakuasi. Tim DVI Polri akan melakukan proses identifikasi lewat pencocokan data antemortem dari keluarga dengan data postmortem yang ada pada tubuh korban, termasuk melalui sampel DNA.

Mengenai Pesawat Lion Air JT-610 dipastikan jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi. Pesawat jenis Boeing 737-300 MAX 8 tersebut terbang dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 06.20 WIB menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Pilot sempat meminta kembali ke landasan sesaat setelah lepas landas. Pilot juga sempat melapor ke ATC Bandara Soetta adanya masalah pada flight control di ketinggian 1.700 kaki dan meminta naik ke ketinggian 5.000 kaki.

Hal ini, namun pada pukul 06.33 WIB, pesawat hilang dari radar dan tak bisa dikontak ATC Bandara Soetta. Pesawat dengan register PK-LQP itu membawa 189 orang, terdiri dari 178 penumpang tewas, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin. Basarnas memprediksi seluruh penumpang dan awak kabin tak ada yang selamat. ( IP – TIO )

 



Berita Lainnya