Jumat , | WIB

Sabtu, 26 Januari 2019 - 18:40:51 WIB
KEMBALI GELAR PERUNDINGAN KEMITRAAN EKONOMI INDONESIA DAN TURKI
Nasional - Dibaca: 166 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijenpost

Sesuai mengenai Indonesia dan Turki kembali bertemu dalam putaran ketiga Indonesia Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IT CEPA di Jakarta. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari itu, merupakan salah satu langkah dalam akselerasi perundingan dagang kedua negara.

Menurut Direktur Perundingan Bilateral sekaligus pemimpin delegasi Indonesia Ni Made
Ayu Marthini mengatakan perundingan kali ini merupakan kelanjutan perundingan putaran sebelumnya yang dilaksanakan di Ankara, Turki pada 28—30 Mei 2018.

Selanjutnya pada perundingan ini, kata dia, enam kelompok kerja bertemu untuk membahas berbagai isu terkait perdagangan barang seperti akses pasar dan draf teks; bea cukai dan fasilitas perdagangan (CTF); trade remedies (TR); hambatan teknis perdagangan (TBT), sanitasi dan fitosanitasi (SPS), serta isu legal perjanjian.

“Mengenai Indonesia sebagai tuan rumah menekankan pentingnya perundingan berjalan konstruktif dalam membahas isu-isu penting dalam keenam kelompok kerja. Kedua pihak pada putaran ini akhirnya berhasil menyelesaikan kerangka acuan sebagai pedoman dalam melakukan perundingan ke depannya,“ kata Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan tertulis, Sabtu, 26 Januari 2019.

Kemudian Made mengatakan, perundingan putaran ketiga ini merupakan salah satu bentuk keseriusan pemerintah dalam upaya peningkatan kerja sama ekonomi dengan berbagai negara mitra dagang untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Perundingan IT CEPA juga dapat menjadi jalan untuk memenuhi target nilai perdagangan yang telah ditetapkan oleh Presiden RI pada saat kunjungan ke Turki bulan Juli 2017, yaitu USD 10 miliar pada tahun 2023.

 “Hal ini meskipun data total perdagangan Indonesia-Turki menunjukkan peningkatan yang konsisten selama tiga tahun terakhir, namun kami yakin masih belum merefleksikan potensi sesungguhnya yang dimiliki kedua negara. Singkatnya, masih banyak potensi dan ruang untuk pengembangan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Turki. Perjanjian ini nantinya mendorong hal tersebut,” ujar Made.

Lantas menurut Made, perundingan IT CEPA dilakukan secara inkremental dengan tahap awal di bidang perdagangan barang yang kemudian akan dilanjutkan pada bidang perdagangan jasa, investasi,dan bidang lainnya yang ditentukan kemudian. Perundingan ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di Turki dengan cara mengeliminasi hambatan perdagangan kedua negara, baik hambatan tarif maupun nontarif.

“SementaraTahun ini kami berencana untuk mengintensifkan perundingan IT CEPA dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional. Sehingga nantinya manfaat dari perundingan dapat dinikmati oleh masyarakat, kalangan usaha, eksportir maupun importir serta dapat membantu
peningkatan kinerja ekspor nasional dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia,” kata dia.

Namun salah satu isu penting dalam perundingan IT CEPA, kata Made adalah trade remedies. Hal ini mengingat Turki merupakan salah satu negara yang cukup sering menggunakan instrumen trade remedies. “Sebaik apapun kualitas produk Indonesia, tetap akan mengalami kesulitan bersaing di pasar Turki apabila masih menghadapi tarif tinggi dan kebijakan antidumping atau safeguard mereka. Oleh karena itu, perundingan ini penting untuk segera diselesaikan,” ujar Made.

Lalu adapun total perdagangan Indonesia-Turki pada 2017 mencapai US$ 1,7 miliar dengan surplus bagi Indonesia sebesar US$ 634,9 juta. Ekspor Indonesia ke Turki tahun 2017 tercatat sebesar US$ 1,16 miliar dengan produk ekspor utama Indonesia ke Turki diantaranya karet alam, benang, serat stapel tiruan, benang filamen sintetis, dan minyak kelapa sawit.

Bahkan pada tahun yang sama, kata Made, nilai impor Indonesia dari Turki mencapai US$ 534,1 dengan produk antara lain besi baja, tembakau, borat, uap atauboiler penghasil uap lainnya, dan kapas. ( IP – DW )

 



Berita Lainnya