Minggu , | WIB

Sabtu, 09 Maret 2019 - 19:37:06 WIB
PEREKONOMIAN DUNIA MEMBUAT HARGA KARET JATUH JOKOWI TUDING
Ekonomi Bisnis - Dibaca: 74 kali


Intelijenpost.com

Banyuasin, Intelijen Post

Sesuai menurut Presiden Joko Widodo mengatakan gejolak perekonomian dunia merupakan biang keladi jatuhnya harga komoditas karet dalam beberapa tahun terakhir. Itu ia ungkap saat menemui sekitar dua ribu petani karet di Balai Perkebunan Rakyat di Desa Lalang Sembawa, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan pada Sabtu (9/3).

Selanjutnya Jokowi menjelaskan, kondisi perekonomian dunia yang bergejolak membuat pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara ikut terguncang. Permintaan akan sejumlah komoditas pun menurun, termasuk yang berbahan mentah dan kerap diekspor oleh Indonesia.  "Misalnya kelapa sawit, itu otomatis harganya turun. Batu bara juga, termasuk karet juga sama. Jadi problemnya karena ekonomi dunia belum normal," ucapnya.

Mengenai permintaan yang menurun tersebut rupanya berbanding terbalik dengan produksi yang justru meningkat. Hal itu menimbulkan kelebihan pasokan yang selanjutnya membuat harga karet menurun cukup signifikan di pasar internasional. Kendati begitu, Jokowi meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dengan penurunan harga karet.

Sementara beberapa jalan keluar menurut pemerintah adalah mengendalikan produksi, menyerap produksi petani yang berlebih, hingga berkoordinasi dengan negara sesama produsen karet."Makanya dulu harga karet sempat Rp5.000-6.000 per kilogram. Tapi sekarang setidaknya sudah Rp8.900-9.000 per kilogram," ujar mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Kemudian Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan harga karet yang jatuh di pasar internasional memang mempengaruhi perekonomian provinsi tersebut. Sebab, sekitar 1,3 juta hektare (ha) lahan perkebunan di provinsi tersebut merupakan lahan perkebunan karet.  "Luas ini menjadi yang nomor satu di Indonesia. Diikuti dengan luas lahan perkebunan kelapa sawit sekitar 1,1 juta hektare, kopi 250 ribu hektare, sisanya aneka tanaman, seperti lada, kemiri, aren, dan lainnya," ungkapnya pada kesempatan yang sama.

Lantas dari luasan itu, ada sekitar 62 ribu keluarga atau 4,8 juta penduduk Sumatera Selatan yang menggantungkan hidupnya dari perkebunan karet. Angka itu sama dengan 58 persen dari total penduduk provinsi itu. "Maka dari itu masalah dari produksi karet masih perlu dipecahkan. Apalagi harga komoditas di tingkat ekspor masih menjadi tantangan," katanya.

Hal ini berdasarkan indeks Tokyo Commodity Exchange (TOCOM), harga komoditas karet sebesar 198,4 yen Jepang pada Sabtu (9/3). Patokan harga tersebut sudah cukup meningkat dalam setahun terakhir. Harga karet sempat berada di kisaran 152,9 yen Jepang dalam setahun terakhir. Sementara harga tertinggi hanya berkisar 206,2 yen Jepang. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, harga tertinggi karet sejatinya pernah menyentuh kisaran 331,3 yen Jepang. ( IP – DW )

 



Berita Lainnya