Selasa , | WIB

Kamis, 28 Maret 2019 - 19:30:04 WIB
TELUSURI TKI ILEGAL KE MALAYSIA DISEBUT LEWAT JALUR TIKUS
Pelabuhan - Dibaca: 291 kali


Intelijenpost.com

Tawau, Intelijen Post

Adanya mengenai terlalu banyak jalur tikus yang bisa digunakan TKI masuk ke Malaysia secara ilegal. Namun salah satu yang populer adalah Sungai Nyamuk-Pelabuhan Batu-Batu. Saking ramainya jalur ini, kadang dibilang 'jalur sutera'. Mengapa?

Menurut seorang staf Konsulat RI di Tawau, berinsial AR , menyatakan kekesalannya. Dia mendapati seorang TKI yang telah dideportasi tiba-tiba nongol di Tawau. TKI itu apes ketangkap lagi dan kembali dideportasi ke Nunukan, tapi tidak sampai dua hari ia sudah kembali ke Malaysia dengan nama lain. "Jadi TKI yang di sini itu kemungkinan besar adalah orang-orang yang pernah dideportasi," ujarnya.

Lantas menurutnya, ratusan orang tiap bulan dideportasi oleh pemerintah Malaysia, biasanya sampai Nunukan jam 19.00 waktu setempat. Di sana, mereka didata oleh BP2TKI lalu diberi nasehat secukupnya. Setelah itu mereka bisa pergi dengan seorang penjamin yang biasanya mengaku saudara.

Mengenai hal ini, sayangnya tidak semua pulang kampung. Tapi diam-diam kembali ke Sabah, Malaysia. Mereka kembali melalui orang yang suka mengaku saudara, yang tak lain calo tenaga kerja. Lalu bagaimana jalur balik ke Tawau? Pertama, sang TKI bisa memesan ferry dari Nunukan ke Pelabuhan Tawau dengan ongkos kisaran Rp 200 ribu. Bila jalur ini yang ditempuh, maka TKI harus sudah dilengkapi dokumen resmi.

Selanjutnya bagaimana bila tidak mau keluar uang untuk dokumen resmi? Mereka dapat segera naik angkutan dari Nunukan ke Bambangan dengan ongkos Rp 75 ribu. Dari situ, yang bersangkutan lalu menyeberang ke salah satu wilayah Malaysia di Pulau Sebatik yang disebut Sungai Nyamuk dengan tiket Rp 100 ribu. Kemudian dengan kapal kayu (bertarif Rp 100 ribu atau 30 RM) mereka melenggang ke Pelabuhan Batu-Batu.

Sementara jalur Sungai Nyamuk ke Batu-Batu bisa dikatakan sebagai jalur sutera. Sebab ketika berangkat dari Sebatik pada dasarnya kapal kayu tersebut sudah berada di wilayah Malaysia sehingga ketika menyeberang menuju Batu-Batu jarang mengalami pemeriksaan.

Hal ini lain lagi kalau berangkat dari Sungai Nyamuk wilayah Indonesia. Walaupun hanya 15 menit menuju Batu-Batu, namun kapal patroli Indonesia dan Diraja Malaysia banyak berjaga dan sang kapten kapal harus melapor sana-sini. Walaupun begitu, kadang penjagaan di sana, khususnya malam hari, juga tidak ketat.

Lancarnya jalur tikus salah satu penyebab 'kebocoran' ini adalah sangat longgarnya perbatasan laut maupun darat di Pulau Sebatik yang membuat pergerakan manusia sangat leluasa. Selain itu, di wilayah paling terdepan Indonesia tersebut, khususnya di Sungai Nyamuk, tidak terlihat kantor imigrasi. Yang ada di sana hanyalah pos Polsek dengan kekuatan kurang dari 10 personel. Padahal luas cakupan wilayah yang harus dijaga adalah seperempat pulau dengan kisaran 30 ribu penduduk.

"Lalu saya harapkan, kalau ada kantor imigrasi di sini keadaan akan menjadi lebih baik. Apalagi kalau personel kami ditambah," ujar seorang polisi yang setengah bangunan kantornya masih berdinding triplek. Di masa Pemerintahan baru Indonesia yang berjanji memberikan perhatian lebih dalam soal maritim diharapkan segera memperhatikan hal-hal diatas. ( IP - *** )

 



Berita Lainnya