Rabu , | WIB

Sabtu, 13 April 2019 - 21:16:26 WIB
DI TENGAH LAUTAN LEPAS KISAH NYOBLOS
Peristiwa - Dibaca: 148 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijen Post

Adanya mengenai Pemilu di samudera Atlantis Tahun 2019 disebut sebagai tahun politik di Indonesia, karena di tahun ini seluruh warga negara Indonesia akan memilih presiden dan wakil presiden baru untuk memimpin Tanah Air di masa depan.

Selanjutnya euforia pemilihan umum (pemilu) bukan hanya terasa di dalam negeri. Kami, para perantau di luar negeri, juga ikut merasakannya. Di lini masa media sosial saya ramai cuitan bernada antusias soal pemilu. Baik teman di Indonesia dan teman sesama perantau di luar negeri juga saling mengingatkan untuk tak lupa menggunakan hak pilih dalam pemilu tahun ini.

Hal ini, saking hebohnya pemilu tahun ini bahkan ada teman saya dari Indonesia yang sengaja berwisata ke luar negeri untuk merasakan 'nyoblos' di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Ini bukan pemilu pertama saya. Tapi karena saat ini saya bekerja sebagai pramusaji di sebuah kapal pesiar, mau tidak mau saya memberi hak pilih saya dari perantauan. Bisa dibilang ini merupakan pengalaman pertama saya 'nyoblos' dari tengah lautan.

Mengenai perusahaan Belanda-Amerika tempat saya bekerja selalu memberikan kesempatan bagi para karyawannya untuk mengikuti pemilu Indonesia. Lima tahun yang lalu hal yang sama juga telah diselenggarakan di kapal pesiar yang tengah berlayar di perairan negara orang. Bukan hanya kapal pesiar saya saja yang membolehkan karyawannya meluangkan waktu bekerja untuk memberikan hak pilih, melainkan seluruh kapal pesiar yang memiliki karyawan asal Indonesia.

Lemudian kegiatan nyoblos di kapal pesiar saya digelar pada 2 April 2019, atau 15 hari lebih awal dari jadwal di Indonesia. Posisi kapal pesiar saat itu sedang berlabuh jauh di timur perairan negeri Paman Sam. Pemilu sendiri berlangsung selama tiga jam, dimulai dari pukul 20.00 sampai 23.00 dengan jumlah DPT sebanyak 274, dan surat suara sebanyak 379 paket. Semua surat suara nantinya akan dikirimkan ke KBRI San Francisco saat kapal kami bersandar di salah satu pelabuhan Amerika Serikat.

Sementara pemungutan suara yang berlangsung tiga jam di atas kapal pesiar menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi kami. Semuanya antusias walau harus meluangkan waktu di tengah kesibukan pekerjaannya. Bahkan ada yang sampai tergopoh-gopoh berlari dari unitnya agar tidak ketinggalan 'nyoblos'. Selain bisa menggunakan hak pilih, kegiatan pemilu ini juga semakin menyenangkan karena panitia penyelenggara menyediakan camilan berupa pisang goreng bagi yang sudah memilih.

Lantas pemberian konsumsi setelah 'nyoblos' di sini mirip tradisi yang dilakukan di pemukiman Jakarta. Kami yang hadir jadi tersenyum-senyum sendiri sembari membayangkan Indonesia dari tengah besi terapung ini. Kebersamaan kami dalam pemilu tahun ini dirangkum dalam acara berfoto bersama. Walau di dalam hati memilih calon yang berbeda nomor urut, yang jelas pemilu di kapal pesiar ini dilingkupi oleh suasana santai dan akrab. Tak ada debat, tak ada orasi, tak ada atribut kampanye di antara kami.

Namun saya harap tak ada lagi penduduk Indonesia yang tak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu tahun ini. Ikut bersuara dalam pemilu adalah sumbangsih saya sebagai warga negara yang sadar belum bisa berbuat banyak untuk bumi pertiwi, kecuali mendukung pemimpin yang menurut saya kompeten dan bersedia dengan tulus untuk mengurus dapur rumah tangga negara ini. Dari tengah laut lepas ini, saya dan teman-teman berharap pemimpin baru bisa kembali menyatukan dan semakin memajukan Indonesia. ( IP - *** )



Berita Lainnya