Selasa , | WIB

Senin, 29 April 2019 - 22:11:29 WIB
KPK KEMBALI PANGGIL DIRUT PERTAMANINA KASUS SOFYAN BASIR
Nusantara - Dibaca: 96 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijen Post

Sesuai menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil mantan petinggi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nicke Widyawati terkait dengan kasus suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. Nicke, kini duduk sebagai Direktur Utama Pertamina.

Selanjutnya Nicke pernah menduduki tiga jabatan di perusahaan penyedia setrum itu. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Niaga dan Managemen Resiko PT PLN (Persero), Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (persero), dan Direktur Pengadaan Strategis 1 PT PLN (Persero).

"Lantas yang bersangkutan dipanggil sebagai saksi untuk SFB (Direktur Utama PT PLN nonaktif Sofyan Basir)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan tertulis, Senin (29/4). Nicke, sebelumnya pernah dipanggil KPK pada September 2018 silam terkait dengan kasus PLTU Riau-1. Saat itu, dia dipanggil sebagai saksi untuk tersangka

Kemudian selain Nicke, KPK juga memanggil sejumlah pihak PT PLN. Mereka adalah Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienfy Roekman, Senior Vice President Legal Corporate PT. PLN Dedeng Hidayat, dan Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua PT PLN Ahmad Rofik. Ketiganya bakal diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sofyan Basir. KPK sendiri telah memeriksa 10 orang saksi untuk Sofyan Basir.

Sementara dalam kasus suap proyek PLTU Riau-1, KPK telah menetapkan Sofyan sebagai tersangka kasus suap terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau. Sofyan diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dengan terpidana Mantan Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham dan Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih.

Menurut Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan pihaknya menduga Sofyan telah menerima uang dari Johanes Budisutrisno Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd. Sofyan diduga turut membantu Eni Maulani Saragih dan kawan-kawan menerima hadiah atau janji dari Johanes Kotjo. "SFB diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dari jatah Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham," kata Saut. ( IP – DW )

 

 



Berita Lainnya