Selasa , | WIB

Selasa, 30 April 2019 - 05:44:39 WIB
IMAM NAHRAWI MINTA SESMENPORA SIAPKAN RP 5 M SEKJEN KONI SEBUT
Hukum & Kriminal - Dibaca: 110 kali


Intelijenpost.com

Jakarta, Intelijen Post

Adanya mengenai terdakwa kasus suap Dana Hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy mengatakan pernah mendengar keluhan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Alfitra Salam karena diminta menyediakan uang Rp5 miliar oleh Menpora Imam Nahrawi.

Selanjutnya Hamidy mengatakan hal tersebut saat menjadi saksi untuk terdakwa Bendahara Umum KONI Johny E Awuy di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Senin ( 29/4 ) . Dari keluh kesah yang disampaikan Alfitra, Hamidy mengatakan jika Alfitra sudah tidak kuat lagi menjadi Sesmenpora. Hal itu tak lain karena Alfitra merasa tidak sanggup untuk memenuhi permintaan Imam menyiapkan uang.

Hal ini bahkan, Hamidy mengatakan, Alfitra menceritakan hal tersebut sambil menangis dengan disaksikan oleh istrinya. "Pak Alfitra bilang 'saya mau mengundurkan diri dari Sesmenpora karena enggak tahan, sudah terlalu berat beban saya'. Karena curhat sambil menangis dengan [disaksikan] istrinya, beliau harus siapkan uang Rp5 miliar," ujarnya.

Lantas keterangan tersebut,  disebut Hamidy karena Alfitra pernah meminjam uang sebesar Rp5 miliar kepadanya. Namun karena tidak memiliki uang sebanyak itu, Hamidy pun menolak permintaan tersebut. Kemudian, Hamidy melanjutkan, Alfitra menceritakan posisinya sebagai Sesmenpora akan digantikan bila dia tidak menuruti permintaan Nahrawi soal uang Rp5 miliar itu. Permintaan tersebut pun datang langsung oleh Nahrawi.

"Kemudian kalau informasi beliau Pak Menteri. Dia bilang bukan akan dicopot, tapi akan diganti," tuturnya. Di sisi lain, saat bersaksi dalam sidang lanjutan kasus suap Dana Hibah KONI dari terdakwa Ending Fuad Hamidy, Imam Nahrawi sebelumnya mengaku tidak pernah mengunjungi kantor KONI sejak menjabat sebagai Menpora pada 2014.

Lalu padahal, kantor KONI yang berada di Jalan Pintu 1 Senayan yang terletak tak jauh dari gedung Kemenpora. Awalnya jaksa penuntut umum mempertanyakan soal hubungan Imam dengan asisten pribadinya, Miftahul Ulum. Imam pun menjelaskan jika dirinya mulai kenal dengan Ulum pada 2015.

Mengenai sebagai asisten pribadi, Imam mengatakan Ulum memiliki sejumlah tugas seperti pengaturan jadwal, koordinasi dengan protokol dan membantu dalam dokumentasi. Namun Imam membantah jika Ulum diberikan tugas untuk mengurus pencairan dana proposal. "Tidak [mengurus proposal]. Karena biasanya proposal setelah saya telaah, langsung diambil kembali oleh sekretariat," ujar Imam.

Dalam kasus ini kemudian, jaksa pun menanyakan kepada Imam apakah dirinya pernah mengunjungi kantor KONI. Imam pun menjawab tidak pernah. "Belum," kata Imam. "Sama sekali sejak tahun 2014?", tanya jaksa. "Belum," jawab Imam. Ia lalu mengaku tidak tahu apakah Ulum pernah berkunjung ke kantor KONI atau tidak.

Bahkan KPK sebelumnya telah menetapkan Staf Kemenpora Eko Triyanto dan Kepala Bidang Sentra Olahraga Pendidikan Kemenpora Adi Purnomo sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Keduanya menjadi tersangka karena menerima gratifikasi dari Hamidy. Selain keduanya, KPK juga menetapkam Deputi Bidang Peningkatan Olahraga Kemenpora Mulyana sebagai tersangka.

Sementara dalam kasus ini, Hamidy dan Johny E Awuy didakwa menyuap Mulyana. Mereka menyuap untuk memperlancar proposal yang diajukan oleh KONI dan mempercepat pencairan dana dari Kementerian. Dalam surat dakwaan, Hamidy bersama Johny memberikan hadiah kepada Mulyana berupa satu unit mobil Fortuner VRZ TRD, uang sejumlah Rp 300 juta, satu buah kartu ATM Debit BNI dengan saldo senilai Rp 100 juta, dan satu buah handphone Samsung Galaxy Note 9. ( IP – TIO )

 

 



Berita Lainnya