Selasa , | WIB

Senin, 20 April 2015 - 21:05:26 WIB
PEMERINTAHAN JOKO WIDODO MIRIP CERITA WAYANG PETRUK JADI RATU
Nasional - Dibaca: 30516 kali


SURABAYA,INTELIJENPOST.COM Pada saat Joko Widodo ( Jokowi ) dilantik sebagai presiden ketujuh RI, bersama wakilnya Jusuf Kalla,keduanya bakal memimpin bangsa Indonesia selama lima tahun ke depan. Pesta rakyat pun digelar di Jakarta hingga ke daerah-daerah. Misalnya di Kediri, Jawa Timur, ada seorang seniman syukuran pelantikan Jokowi dengan membuat wayang Petruk dengan wajah Jokowi.

Menurut Sampurno Hadi nama seniman asal Kediri itu. Dia mengubah wujud Jokowi dan menjadikannya sebagai Petruk, tokoh punokawan dalam cerita wayang Purwa--karena tidak disebutkan dalam kisah Mahabarata. Wayang Petruk berwajah Jokowi itu dilabeli, “Petruk dadi Ratu. “

"Adanya persiapan Wayang ini, saya buat khusus sejak sebulan lalu pada saat itu dan dipamerkan tepat saat Pak Jokowi dilantik menjadi Presiden RI ke-7. Pak Jokowi saya gambarkan sebagai tokoh Petruk, karena beliau adalah orang biasa yang kemudian menjadi presiden atau lebih tepatnya Petruk dadi Ratu," kata Sampurno Hadi.

Sementara dalam kisah pewayangan memang ada satu cerita tentang Petruk, judulnya: Petruk Dadi Ratu. Kisah yang biasanya diselingi lelucon oleh dalang itu memang memiliki banyak versi. Misalnya dalam buku "Ensiklopedi Wayang Purwa" dikisahkan tentang hilangnya Jamus Kalimasada yang dicuri Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, sebagai titik awal cerita Petruk Dadi Ratu.

Sesuai cerita Kalimasada yang hilang, kemudian menjadi bahan perebutan antar raja, sehingga timbul kegaduhan dan kekacauan luar biasa. Singkat cerita, Jamus Kalimasada itu sampailah ke tangan Petruk. Dia lantas menyimpannya, tetapi karena pengaruh kesaktian dan kekuatannya ampuh, Petruk dapat mengalahkan raja Lojitengara dan menduduki singgasananya. Petruk lalu bergelar Prabu Wel Geduelbeh.

Selanjutnya, petualangan Prabu Wel Geduelbeh ini tak berhenti di situ karena dengan kesaktiannya dia justru mengamuk dan memerangi kerajaan-kerajaan lain, termasuk kerajaan Hastina yang dipimpin para Pandawa. Menurut dalang, begitulah ketika Punakawan kalau sudah mengeluarkan kesaktiannya, konon dilukiskan sebagai "tidak ada manusia pun dapat menandinginya."

Dalam penyamaran Petruk sebagai Prabu Wel Geduelbeh ini baru terbongkar setelah bertarung dengan saudaranya sendiri, Gareng dan Bagong. Awalnya perang antara Prabu Wel Geduelbeh dengan Gareng dan Bagong itu tidak segera berakhir karena belum ada yang menang dan kalah. Sampai akhirnya ketiganya berkeringat. Gareng dan Bagong sangat mengenali bau keringat Petruk sehingga keduanya tidak lagi mengajak bertarung dan mengadu kesaktian. Gareng dan Bagong malah mengajak Petruk bercanda, berjoged bersama dengan berbagai lagu dan tari.

Pada akhirnya, tanpa sadar Prabu Wel Geduwelbeh kembali ke habitatnya sebagai orang yang jenaka dan lupa telah memakai pakaian kerajaan. Setelah sadar, dia segera lari meninggalkan Gareng dan Bagong karena malu. Tapi Prabu Wel Geduwlbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong. Setelah tertangkap langsung dipeluk dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud aslinya.

Dari penyarannya dan setelah terbuka semua, Petruk ditanya oleh Kresna mengapa ia bertindak seperti itu. Petruk beralasan tindakan itu untuk mengingatkan tuannya bahwa segala perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu.

Mirip namun versi cerita pewayangan lain, cerita Petruk Dadi Ratu itu terjadi karena dia tidak tahan dengan ulah raja-raja dan bangsawan di Mayapada, kerajaan Kahyangan yang dipimpin Bethara Guru. Petruk sudah hafal betul ulah mereka karena sudah mengabdi sebagai punakawan selama puluhan tahun.

Sebagai singkat cerita, Petruk yang sebenarnya sakti mandraguna itu menjelma menjadi Prabu Kanthong Bolong. Dalam waktu semalam, dengan wajah barunya dia melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi 'main stream' dan model kekuasaan di Mayapada dalam waktu satu malam. Dia mengubah tatanan pemerintahan secara radikal dan semaunya sendiri sehingga membuat resah raja-raja dan para dewa di kahyangan.

Timbul intrik jahat para raja dan dewa-dewa itu, bersekongkol membuat sekenario melenyapkan raja biang kerusuhan, yakni Raja Kanthong Bolong atau Petruk. Sayangnya, persekutuan raja dan dewa itu gagal. Raja Kanthong Bolong tidak mati dan malah mengamuk menghajar semua raja dan dewa, termasuk Kresna dan Pandawa. Bahkan Bethara Guru sang penguasa Mayapada pun kalah.

Situasi dan keadaan Mayapada semakin semrawut sampai akhirnya Semar Bodronoyo turun tangan mengendalikan situasi. "Ngger, Petruk anakku!," Semar berujar pelan, suaranya serak dan berat seperti biasanya. "Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!"

"Kata Semar, apa yang sudah kau lakukan, tho le? Apa yang kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi kawulo alit? Apakah kamu merasa lebih mulia bila menjadi raja? Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri."Maka Prabu Kanthong Bolong yang gagah dan tampan, berubah seketika menjadi Petruk. Berlutut di hadapan Semar. Lalu kisah Petruk Jadi Ratu berakhir.

Senantiasa Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu. "Ah, hanya Hyang Widi yang tahu apa isi hatiku, selain Dia aku tak peduli." Kembali dia mengayunkan pecoknya membelah kayu bakar. Sambil bersenandung tembang pangkur. ( IP – BRM )



Berita Lainnya