Rabu , | WIB

Selasa, 10 November 2015 - 17:57:26 WIB
KEBIJAKAN JOKOWI IBARATNYA KETOK MAGIC ATAU BIM SALABIM ABRA KADABRA
Opini - Dibaca: 4671 kali


JAKARTA,INTELIJENPOST.COM - Satu tahun sudah masa kepimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi banyak mengeluarkan kebijakan ketok magic atau bim salabim abra kadabra’ alias kebijakan ‘sulap - menyulap’ sehingga rakyat cengang dengan penuh teka – teki.

Hal ini disampaikan Ketua. Kordinator LSM. Pemantau Kinerja Aparatur Pemerintahan Pusat Dan Daerah ( PKA – PPD ) Seluruh Indonesia Lahane Aziz kepada intelijenpost, baru lalu. “Menurutnya, perilaku ‘ketok magic’ pemerintahan ini paling sedikit terlihat dalam dua hal yang menjadi polemik dalam kebijakan mengatasi krisis dan UU APBN 2016,” ungkap Aziz.

Lanjut Aziz, dalam mengatasi krisis besar kemungkinan ke depan pemerintahan Jokowi akan mengeluarkan paket kebijakan setiap hari. “Melalui paket kebijakan tersebut Jokowi mimpi uang besar, proyek besar, investasi besar, utang besar dan untung besar,” ungkapnya.

Aziz  mengutarakan, UU APBN 2016 yang ambisius, dengan target penerimaan pajak naik 15 %, utang pemerintah dari dalam negeri naik 132 %, utang luar negeri naik 50 %. Selain itu pemerintah memberikan berbagai insentif dan keringanan pajak, penghilangan bea masuk, penghilangan bea keluar dan berbagai pengurangan beban biaya terhadap para investor.

“Terkait dengan APBN 2016 yang ambisius tersebut, Jokowi mengaharapkan internasional, para investor melirik Indonesia yang memiliki rencana besar dan hebat,” jelas Aziz.

Dia ( Aziz ) mengatakan, UU APBN 2016 lebih tinggi kedudukannya secara hukum dibandingkan paket. Kalau pelanggaran UU bisa diminta pertanggungjawabannya oleh DPR. “Sementara kalau paket bisa dibuat dan dibatalkan pemerintah sendiri. Jadi investor pasti berfikir ini ‘tidak jelas’,” paparnya.

Kaitannya dengan UU APBN 2016, satu sisi target kenaikan pajak dan penerimaan begitu besar. Namun sisi lain pemerintah mengatakan berkomitmen memberikan fasilitas, keringanan dan bahkan penghapusan pajak serta insentif lainnya. “Semua pengusaha dan investor asing pasti merasa aneh dengan hal yang kontradiktif dalam APBNP 2016 sehingga mereka akan sampai pada kesimpulan terakhir adanya ‘akal - akalan’,” cetusnya. ( IP - *** )

Berita Lainnya