Rabu , | WIB

Kamis, 31 Maret 2016 - 19:58:18 WIB
KEMENTARIAN HUKUM DAN HAM TIDAK TEGAS DAN PENGAWASAN LEMAH
Opini - Dibaca: 881 kali


Rutan Dijadikan Lumbung Tempat Transaksi Narkoba

SURABAYA,INTELIJENPOST.COM - Kementerian Hukum dan HAM Yasonna Laoly tidak tegas dan dianggap gagal dalam melaksanakan program kerja  di Ditjen Lapas Kementerian Hukum dan HAM sehingga di beberapa Rumah Tahanan (Rutan) sering terjadi kerusuhan dan mengakibatkan berapa orang Nara Pidana  (Napi) meninggal, serta usut punya usut ternyata keributan berawal dari permasalahan Narkoba.

Intelijenpost coba konfirmasi berita ini dengan Ketua DPD. Jawa Timur. Lembaga Palapa Sakti Nusantara Pemersatu Bangsa ( LPSN – PB ) Lahane Aziz mengatakan, sesuai dengan visi – missi Lembaga kami sebagai, Pelayan, Pelindung, Pengabdi Bangsa Dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, “ Mengecam Keras Kinerja Kementerian Hukum dan HAM, khususnya di Ditjen Lapas Kementerian Hukum dan HAM mengenai adanya kerusuhan di Rumah Tahanan ( Rutan ) dengan membakar ruangan tahanan sehingga beberapa Napi meninggal dunia, dan ternyata buntut – buntutnya permasalahan Narkoba. “

Lanjut Aziz, dengan kerusuhan dan kebakaran di Rumah Tahanan Negara Malabero Kota Bengkulu ini, Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum danHak Asasi Manusia ( Dierjen PAS Kemenkumham ), I Wayan Kusmiantha Dusak harus bertanggung jawab terhadap instansinya atau petugas Lapas sudah mengerti adanya pelanggaran Standar Operasional( SOP ) prosedur sehingga menjadi penyebab kerusuhan, tapi dibiarkan petugas dari BNP untuk tetap melakukan pemeriksaan terhadap para napi, tegas Aziz.

Akibat dari adanya pelanggaran, “ SOP yang tidak dijalankan oleh petugas Kepolisian maupun petugas Badan Narkotika Previnsi ( BNP ) Bengkulu, maka penghuni Rutan sehingga konflik terjadi dan berujung rusuh, “ hal ini menjadi tanggung jawab Kapolda Bengkulu dan Kepala BNP Provinsi Kota Bengkulu tersebut, jelasnya.

Imbuh Aziz, kalau dilihat dari keadaan Rutan Malabero yang terbakar pada baru lalu dan menimbulkan korban jiwa, Aziz mengatakan, lemahnya pengawasan juga menjadi pemicu terjadinya keributan. Selanjutnya, terkait persoalan Narkoba di dalam rutan dan lapas, ia menjelaskan karena diduga keras ada orang dalam Lapas ( petugas ) yang ikut terlibat melancarkan peredaran barang haram ( Narkoba ) dimaksud,” seharusnya petugas memutus mata rantai peredaran Narkoba di dalam Rutan maupun Lapas dengan meningkatkan pengawasan,” ujarnya.

Kemudian berita yang dihimpun Intelijenpost, kerusuhan berujung kebakaran yang melanda Rutan Malabero pada Jumat malam berawal dari aksi solidaritas penghuni tahanan yang menghalangi penangkapan salah seorang tahanan oleh BNP  Provinsi KotaBengkulu.

Informasinya, penangkapan seorang tahanan tersebut karena dugaan keterlibatan dalam peredaran dan pemakaian narkoba di Lapas Bentiring. Sementara Sekjen Kemenkum dan HAM Bambang Rantam Sariwanto mengatakan kerusuhan di rutan itu terjadi di luar dugaan.

"Menurut Sariwanto penggeledahan tahanan sudah sesuai ketentuan yaitu dilakukan malam hari, tapi bangunan rutan memamg sudah tua jadi mudah dijebol," Karena kondisi bangunan rutan yang didirikan pada 1925 itu dinilai sudah rapuh sehingga para tahanan mampu menjebol ruang tahanan. Kumpulan massa yang tidak terkendali juga menyebabkan para tahanan menjadi beringas sehingga kejadian pembakaran tidak dapat dihindarkan, ungkapnya.

"Terangnya, jumlah petugas juga sangat minim, hanya ada empat orang yang bertugas saat kejadian, seharusnya setiap petugas mengawasi 20 tahanan."  Lantas menyangkut kebakaran yang melanda Rutan Malabero mengakibatkan lima tahanan meninggal dunia dan 256 tahanan dipindahkan ke Lapas Bentiring, kata dia. ( IP - *** )



Berita Lainnya