Minggu , | WIB

Selasa, 12 Mei 2015 - 19:59:33 WIB
AWAS PENIPUAN BERKEDOK INVESTASI KOPERASI BANYAK MENELAN KORBAN
Metro Surabaya - Dibaca: 50526 kali


SURABAYA,INTELIJENPOST.COM - Hati – hati penipuan berkedok investasi koperasi yang saat ini lagi marak dan sudah banyak menelan korban. Sejumlah nasabah korban penipuan Koperasi Titian Rizki Utama yang berlokasi di Jl. Supriadi, Semarang terpaksa gigit jari. Dana yang mereka tanamkan terancam amblas sebagaimana pada kasus-kasus sebelumnya yang telah terjadi di berbagai daerah.

Dari sejumlah media massa melaporkan bahwa uang nasabah yang tertanam tidaklah sedikit. Muljiono (48) mengatakan bahwa ia tela menginvestasikan sampai Rp320 juta di koperasi tersebut. Sejumlah nama lain menyebut angka yang fantastis. Sebut saja Tjahtjanti (63) dan Ny Tirto (47), keduanya juga warga Semarang mengaku menderita kerugian masing-masing Rp 290 juta danRp 440 juta. Seorang suami korban dikabarkan langsung terserang stroke saat mengetahui koperasi tersebut bermasalah.

Data dan informasi yang dihimpun Intelijenpost.com, dari ribuan orang yang berhasil dijerat Koperasi yang telah beraksi beberapa tahun ini dapat diyakini telah terkumpul hasil penipuan yang sangatlah besar. Di Lampung (Maret 2013), Munawar dkk mengalami tipuan koperasi yang dibalut janji pinjaman usaha. Munawar awalnya diminta menyetor Rp5 juta ke koperasi Artha Kusuma agar mendapat pinjaman Rp50 juta. Para nasabah pun berduyun-duyun melakukan hal yang sama. Singkat kata, pinjaman yang dijanjikan tidak kunjung cair. Rekening bank atas nama pengurus Koperasi ternyata sudah dikosongkan, uang nasabah pun lenyap.

Salah satu modus operandi penipuan dari Karawang, Jawa Barat, bisnis tipuan Koperasi Ar-Ridho Bima Nusantara (ARBN) juga tak kalah mencengangkan. Koperasi ini menggunakan modus penitipan/penyewaan mobil dengan imbalan mobil pula kepada calon investor. Ribuan investor kalap menanamkan duit yang diperkirakan mencapai Rp60 milliar. Hasyim yang berasal dari Serang (Banten) mengaku bahwa seorang kerabatnya ikut berinvestasi dengan menitipkan mobil Suzuki APV ke Koperasi ARBN dengan imbalan Rp6 juta per bulan. Imbal jasa itu hanya dibayarkan 3 bulan lalu berhenti. Saat ingin mengklarifikasi hal tersebut, mereka mendapati kantor Koperasi sudah tertutup rapat. Penyesalan selalu datang telat.

Sementara belum lepas di ingatan kita k asus Koperasi Langit Biru pimpinan Haji Jaya Komara yang juga sangat menghebohkan setelah menelan dana triliunan dari masyarakat. Kasusnya pun tenggelam setelah Jaya Komara meninggal di penjara.

Lagi-lagi sebuah koperasi melakukan penipuan. Mengapa hal ini bisa terjadi, lagi dan lagi?

Modusnya Selalu Sama

Bahkan, tidak berbeda dengan berbagai modus tipuan bisnis investasi pada umumnya, tipuan investasi koperasi pun menggunakan modus yang sama: menjanjikan keuntungan yang besar.

Sering para pengurus koperasi mengaku memiliki bisnis ini itu untuk meyakinkan para calon korban agar mau menginvestasikan (menyerahkan) uangnya. “Saya percaya karena pernah diajak ke sebuah peternakan sapi di Boja, Kendal. Saat itu, Ismayudi (salah seorang pimpinan cabang koperasi Titian Rizki Utama) mengakui bila peternakan itu miliknya. Dia juga mengaku memiliki bisnis properti dan bekerja di perusahaan telekomunikasi,” kata Muljiono kesal.

Modus penipuan tidak hanya itu. Koperasi Titian Rizki Utama berusaha menjaring korban dengan menggelar arisan multiguna sampai ke hotel-hotel sehingga terlihat mentereng. Di bulan Juli 2010 saja, pengikut arisan multiguna di koperasi ini sudah lebih 900 orang dengan setoran bervariasi antara Rp1,5 juta – Rp5 juta. Sumber-sumber lain mengatakan bahwa koperasi Titian Rizki Utama kemudian juga mengaku bergerak di bidang properti dan peternakan.

Kisah perjalanan selanjutnya, seiring kepiawaian koperasi ini mempesona korbannya, jumlah masyarakat yang terperdaya pun semakin bertambah, demikian juga jumlah uang yang diinvestasikan tiap nasabah.

(Awalnya) Pembayaran Bonus Lancar

Selanjutnya menurut Mujiono, ia mulanya menanamkan uangnya sebesar Rp200 juta setelah dijanjikan akan mendapatkan bunga 18% per bulan. Pada setahun pertama, pembayaran berjalan lancar sehingga ia menambah investasi menjadi Rp320 juta. Apa dikata, pembayaran tersebut berhenti di tahun kedua. Pihak koperasi menurunkan persentase keuntungan menjadi 12%, tetapi Mujiono juga tidak menerima bayarannya.

Setelah batas waktu investasi telah berakhir sesuai kesepakatan, Mujiono memutuskan akan menarik uangnya. Ternyata pihak koperasi tidak dapat memenuhi janjinya. Barulah ia sadar bahwa ia (dan banyak nasabah lainnya) telah tertipu suatu skema bisnis bodong.

Motif operandi terkait modus-modus ini tidaklah sekali terjadi dan seharusnya mudah dibaca. Pembayaran yang lancar di awal menandakan bahwa modus ini sedang hangat-hangatnya menarik dana masyarakat. Dengan dana yang terus mengalir masuk, suatu bisnis tipuan masih lancar membayar sesuai janjinya. Nah, bahayanya di tahap ini, biasanya para nasabah gembar-gembor mempromosikan bisnis tersebut dengan bukti pembayaran yang telah mereka terima. Ada pula nasabah yang berniat baik, lalu mengajak teman, kerabat dan tetangganya untuk “ikut investasi” agar sama-sama menikmati keuntungan.

Hanya akal - akalan, semua bisnis tipuan, arisan berantai, MLM gadungan, dll akan berakhir pada waktunya. Hal ini terjadi karena investor yang bergabung tak seheboh dulu lagi sehingga jumlah dana yang masuk semakin sedikit, sementara bonus yang harus dibayarkan kepada nasabah terdahulu semakin banyak. Akibatnya, sumber pendapatan mulai mengering. Disaat inilah pembayaran tersendat, lalu berakhir tragis penuh penyesalan. ( IP – LA )

Berita Lainnya